300 Juta Dana Warteg Di Desa Lubuk Harjo Pakum, Penerimaan Bantuan Tak Berniat Mengembalikan Dan Ketua Pengurus Warteg Mundur

Gambar Ilustrasi Warteg

Mutiaraindotv, Kec. Bayung Lincir – Kab. Musi Banyuasin, Niat Pemerintah untuk peningkatan perekonomi rakyat dalam Bidang Usaha Warteg melalui Kementerian Koperasi dan UKM (KemenkopUKM) berkomitmen mendorong kolaborasi dan digitalisasi Warung Tegal (Warteg) untuk tingkatkan produktivitas usahanya. Namun sangat disayangkan Warteg yang berada di Desa Lubuk Harjo, Kecamatan Bayung Lincir, Kabupaten Musi Banyuasin tak berjalan sesuai harapan harapan baik Pemerintah Daerah, Provinsi dan Pusat.

Yang mana dana Warteg sudah dikucurkan di Desa Lubuk Harjo, Kecamatan Bayung Lincir sebesar Rp. 300 Juta, diajukan 6 sampai 8 Kelompok Warteg, tak berjalan (Pakum). Ini disebabkan apa yang harus dikerjakan para pelaku usaha warteg bingung, ya dikarenakan tak adanya pelatihan bagaimana menjalankan dan sistem dalam pinjaman dana bantuan Warteg. Senin, 27 April 2021.

Seperti yang dijelaskan Ketua Pengurus Kelompok Warteg di Desa Lubuk Harjo Pak Sugik, ke Tim Mutiaraindotv, bahwa saya setelah melihat kondisi dari perjalanan dana Warteg macet, maka saya mengundurkan diri. Dan pengunduran diri saya sebagai Ketua itu sudah lama, yang lebih tau kapan saya mengajukan pengunduran adalah Pemerintah Desa. Dan saat Tim Mutiaraindotv mempertanyakan kebenaran terkait perjalanan dana Warteg di Desa Lubuk Harjo, kapan waktu pak Sugik mengundurkan diri….? Itu disaat Kades yang baru, katanya.

Dan masalah laporan dari penggunaan dana Warteg yang sempat berjalan tersebut, sudah saya sampaikan kepada Kepala Desa yang baru. Saya sudah menjelaskan semua permasalahan bagaimana dana Warteg ini yang sudah diberikan dapat dikembalikan. Dengan segala cara saya meminta kepada penerima baik itu melalui surat, sudah disampaikan akan tetapi etikat baik dari penerima pinjaman dana Warteg, mereka belum ada niat mengembalikan pak, ucap Pak Sugik.

” Inikan Anggaran yang bersumber dari pak Fahri yang digelontorkan pada waktu itu sebesar 1 Milyar. Ya keinginan saya kalau bisa ini jalankan secara benar, namun faktanya macet, ya saya juga bingung kok bisa seperti ini “, katanya.

Dan pada saat penyerahan laporan atas penggunaan Anggaran dana Warteg tersebut, saya berikan ke Pak Sekretaris Desa. Ya kami kan cuma melaksanakan, tapi kami juga tetap bertanggungjawab semaksimal mungkin atas semuanya, ya faktanya seperti ini, mau gimana lagi pak. Niat kami sudah berusaha semampu kami, dan Pemerintah Desa telah menerima segala kekurangan. Dan kami sudah mentransfer sisa Anggaran Warteg ke rekening Pemerintah Desa sebesar Rp. 150 juta dari total dana Warteg sebesar Rp. 300 juta pak.

Dan dana warteg tersebut untuk 6 (enam) sampai 8 kelompok Warteg, yang menerima per satu kelompok Warteg 50 Juta. Yang mendapat pinjaman dana Warteg kabarnya tak sampai Rp. 50 Juta/kelompok hanya menerima sebesar Rp. 40 – 46 Juta. Karena itu tergantung dibagi berapa, karena saya tak tau persis pak…?, saya cuma melaksanakan saja. Sebab salah satu peminjam atas nama Kaswato sesuai penjelasan Bendahara sudah mengembalikan dana sebesar Rp. 45 juta.

” Saat kami melaksanakan penyerahan sisa anggaran Warteg itu dihadiri langsung Pak Sekretaris Desa Salamun, Bendahara Ingan, dan pak Kepala Desa Mulyadi. Sebenarnya kami sangat menyayangkan yang telah meminjam dana tersebut tak ada niat baik untuk mengembalikan dana pinjaman warteg tersebut. Kalau mereka mengembalikan perkembangan ekonomi diusaha Warteg di Desa ini dapat berputar dan berjalan seperti desa lain “.

Ya mungkin saja setelah dikembalikan dana Warteg ini kedepannya masuk ke anggaran BUMDes, yang nama usaha milik desa. Ya saya pribadi egak enak mendapatkan amanah untuk menjalankan tidak sukses dalam pelaksanaannya. Intinya saya disini tidak ada urusan lagi dikarenakan sudah urusan dari Pemerintah Desa, tutup pak Sugik. (Tim MITV).

editor ” Awi “.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *