Akibat Covid-19 Kopi Gayo Terancam, DPRK Bener Meriah Minta Pemerintah Siapkan Dana Talangan

MutiaraindoTV, Kabupaten Bener Meriah – Aceh. Ditengah penyebaran wabah Virus Corona (Covid-19) yang melanda dunia, membuat perekonomian masyarakat tidak stabil, mirisnya lagi kopi yang merupakan sendi kehidupan masyarakat Dataran Tinggi Gayo (DTG) juga mengalami harga anjlok yang dibeli pengumpul (Toke) pada Petani.

Zulpan Ariga, salah satu pengumpul (Toke) Kopi di Kampung Gunung Teriti, Kecamatan Bukit saat dikonfirmasi awak media mengatakan, untuk hari ini kita belum tau harga pasti pembelian kita dari Petani karena barang yang adapun tidak ada yang menampung itu kondisi hari ini dan apa yang saya rasakan ini, juga dirasakan teman – teman pengumpul (Toke) lain. Rabu, 08 April 2020.

Dikatakan Zulpan, hal itu akibat semakin maraknya penyebaran Virus Corona (Covid-19) di Dunia, justru pasar kopi kita kebanyakan di eropa dengan kondisi saat ini pengiriman (Ekspor) kesana agak terhambat. Selain itu dari informasi yang saya tau, bahwa untuk kuotha kontar Mei sampai Desember 2020 buyer – buyer luar negeri bulum ada yang meminta berapa banyak yang akan dikontrak kopi arabika gayo kita. “Ungkap Zulpan.

“Ini menjadi masalah besar, ekonomi masyarakat gayo khususnya Kabupatem Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah”

Untuk itu, kami meminta kepada Pemerintah seyokyanya bebesar hati untuk menjalankan Perpu Nomor 1 Tahun 2020, kemungkinan berdasarkan Perpu tersebut Pemerintah dapat membantu masyarakat sehingga perekonomian masyarakat di wilayah gayo tetap tumbuh seperti biasanya. “Jelas Zulpan.

Sebelumnya salah seorang Petani Kopi Rizal Amri yang sedang memanen kopi saat ditanya menyampaikan, untuk saat ini harga kopi gelondong (Kopi Merah) di daerah kami ini harganya semakin menurun. Dimana sebelumnya kopi gelondong di beli Toke ada yang Rp. 11.000,- perbambu namun akibat dampak korona meraka hanya membeli Rp. 8500,- dan Rp. 9000,- per bambu.

Ia mengeluhkan, harga yang semakin tidak setabil sementara kebutuhan masyarakat mahal, untuk itu kami sebagai petani kedapanya sangat berhap pada harga kopi itu disesuikan dengan keadaan saat ini. “Pintanya.

Sementara itu, sejumlah anggota DPRK Bener Meriah diantaranya, Yusmuha, Zulham dan Darussalam terus konsen berupaya untuk mengali solusi dan kendala yang terjadi sehingga ditengah Dolar meroket, malah kopi anjlok.

Darussalam ST, politisi Partai Demokrat sekaligus anggota Banggar DPRK Bener Meriah menyampaikan berdasarkan data dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Bener Meriah Tahun 2019. Kuas produksi dan produktivitas kopi arabika Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) seluas 6.591 hektar, sementara tanaman menghasilkan seluas 34,428 hektar dan tanaman tua rusak (TTR) seluas 5.252 hektar, sedangkan tanaman belum menghasilkan pada Tahun 2018 lalu, yang telah menjadi tanaman menghasilkan pada Tahun 2020 berjumlah 41.019 hektar. Sedangkan total estimasi pertahun sebanyak 34.866,15 ton, 13,3 % dari jumlah kopi nasional 500.000 ton/tahun.

Sementara Kabupaten Aceh Tengah data pada Tahun 2016 tanaman induk menghasilkan seluas 1.373 hektar, tanaman menghasilkan seluas 42,125 hektar. Tanaman tua rusak seluas 5203 hektar, dengan jumlah yang dihasilkan sebanyak 745 kilogram per hektar maka jumlah produksi Kopi Kabupaten Aceh Tengah mencapai 31,383.125 ton pertahun.

“Berdasarkan data di atas maka dapat dirata – ratakan jumlah produksi kopi dari dua wilayah tersebut adalah 66,249,275 ton pertahun berarti produksi perbulannya adalah 5520,77 ton, saat ini yang sudah terealisasi berdasarkan estimasi di perdagangan Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah selama kurun waktu Januari sampai dengan April 2020. Adalah 22,083 ton, yang belum terealisasi terhitung dari bulan Mei sampai dengan Desember 2020 mencapai 44,160 ton, “ulas Konsultan Perencana tersebut

Kata Darus, jika kemungkinan terpuruk tidak ada kesepakatan pembelian dari buyer luar negeri maka pemerintah harus menyiapkan dana talangan dengan estimasi harga perkilogram Rp. 75.000,- maka perlu kebutuhan mencapai Rp. 3.312.000.000.000,- (Tiga teriliun tiga ratus dua belas milyar).

“Selain itu, Pemerintah juga harus menyiapkan untuk kebutuhan industry distribusi,transportasi dan logistik dengan memanfaatkan sumber dana tambahan APBN Tahun 2020 sektor industri yang sudah di gelontorkan oleh pemerintah pusat senilah 150 triliun rupiah, di perkirakan kurang lebih mencapai 1 triliun untuk kebutuhan kedua Kabupaten. Kengingat Daerah Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah penghasil kopi terbesar di Pulau Sumatra yang merupakan devisa negara nomor dua setelah migas, ” pungkasnya.

Sementara itu, Zulham Ketua Banleg DPRK menuturkan, Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 01 Tahun 2020 di minta kepada Bupati Bener Meriah untuk berkoordinasi dengan Gubernur Provinsi Aceh dan di teruskan kepada kementerian yang terkait untuk merealisasikan dana tambahan APBN 2020 di sektor industry. “Tandasnya

Sedangkan Yusmuha menerangkan, realisasi ekspor form ico international coffee organition priode 01 Januari 2020 sampai dengan 06 April 2020 Dinas Perdagangan Provinsi Aceh, dengan Jumlah Negara penerima ada 10 negara diantaranya adalah :

  1. Australia
  2. Canada.
  3. China
  4. Germany.
  5. France
  6. Uniten Kingdom.
  7. Republik Of Korea.
  8. Singapura
  9. Taiwan.
  10. Uniten States Of America

Dengan total FOB Free on boord berjumlah 5,074,146,78 dengan jumlah buyer 23 perusahaan dengan jumlah SKA67 dengan jumlah eksportir 19 eksportir, sementara ekspor free on board Dinas Perdagangan Kabupaten Aceh Tengah priode Januari sampai dengan April 2020 dengan total Jumlah 7,725,082,80 dengan jumlah Negara penerima 8 negara, diantaranya :

  1. Belgium.
  2. Uniten Kingdom.
  3. Italy.
  4. United States of America.
  5. Hongkong.
  6. Taiwan.
  7. Republik Of Korea.
  8. Australia.

Dengan total SKA 75 jumlah buyer 31 perusahaan volume 680,084.00 ton, jumlah eksportir kopi pada Dinas Perdagangan Provinsi Aceh dan Dinas Perdagangan Kabupaten Aceh Tengah berjumlah 16, diantaranya adalah :

  1. Sumatera Arabika Gayo.
  2. KSU Permata Gayo.
  3. Sara Ate.
  4. Fajar Jeumpa.
  5. Koperasi Pertanian Gayo.
  6. Kokowagayo.
  7. PT. Samana Citra Agung.
  8. PT. Aridalta mandiri.
  9. PT. Ihtiyar.
  10. KBQ Baburayyan.
  11. CV. Cahaya Komodity Nusantara.
  12. CV. Megah Nirwana.
  13. UD. Bawadi Foods.
  14. Produsen Arisarina
  15. PT. Mekat Komudity Gayo.
  16. Arinagata.

Semenatara jumlah perusahaan eksportir di Kabupaten Aceh Tengah 6 perusahaan, nilai kontrak jumlah free on boar (FOB) dolar America Serikat (USD) 997933,8 12SKA. 2449656 USD 20 SKA. 1170288 USD 10 SKA , 1181565 USD.13 SKA, 1465080 USD 14 SKA. 460560.6SKA. jika dirata-ratakan kontrak harga kopi semenjak bulan Januari sampai dengan April 2020 adalah 5 USD/kilogram kopi ready ekspor.

Ninali rata – rata dolar America dari Januari sampai dengan April 2020 Rp. 15000, dapat di simpulkan harga kopi Januari-April Ready Ekspor perkilogram adalah Rp. 75,0000,-.

Nah, berdasarkan penelusuran kita ujar Yusmuha, maka Gubernur Aceh harus merealokasikan anggarann sebanyak 3,31 Triluyun, selain itu menyediakan fasilitas industri, distribusi, transportasi logistik karena Petani Kopi membutuhkan perdagangan yang adil atau sering disebut Fairtrade. “Tegas Politis Partai Aceh itu.

“ Nilai tukar dolar Amerika serikat terus terhadap rupiah terus menguat di tengah wabah Virus Corona (Covid-19) hal itu berdasarkan data perdagangan RTI, nilai tukar dolar as mencapai 16,412 , namun justru harga kopi yang dibeli dari Petani malah anjlok “

Akibatnya, petani kopi menjerit karena turunya harga kopi merah jika sebelumnya mencapai Rp  12000, perbambu, kini hanya di beli Rp. 8500,- sampai Rp. 9000,- perbambu. (Samsuddin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *