Bambang Suwito: Tahun 2022 Saja 57.750.099 Ton Pupuk Bersubsidi di Korup

Mitiaraindotv.com, BONDOWOSO, JAWA TIMUR-Niat baik pemerintah memberikan bantuan pada petani melalui Pupuk Bersubsidi dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Puluhan ribu ton haknya petani dikorup.

Ungkapan tersebut disampaikan oleh anggota Panitia Husus (Pansus) Pupuk Bersubsidi, Bambang Suwito. Politisi PDIP ini memang getol melakukan investigasi dugaan penyelewengan Pupuk Bersubsidi.

“Tim kami melakukan investigasi secara merata terhadap kurang lebih 100 hingga 150 petani. Hasilnya, ada petani yang hanya menebus sebagian saja, ada yang tidak menebus sama sekali, bahkan ada yang sudah meninggal dunia menebus Pupuk Bersubsidi,” jelasnya, Senin 17/10.

Sementara, lanjut BK (Bambang Kupang), sapaannya, sesuai data, tiga kategori tersebut sudah menebus 100%. Lalu dijual kemana Pupuk Bersubsidi tersebut, karena sampai saat ini Pupuk Bersubsidi di Bondowoso sangat langka.

Ditambahkan, kalau Aparat Penegak Hukum (APH) serius melakukan penyidikan, saya tidak bisa membayangkan pengabnya ruang tahanan. Di Bondowoso ada 245 Kios dan 16 Distributor.

Berbisnis Pupuk Bersubsidi memang sangat menggiurkan. Karena berkembang rumor, membuka Kios Pupuk selama 6 bulan saja, sudah mampu membeli Fortuner. Sangat fantastis.

“Produsen (sebagai pengendali) sudah memberikan data, Distributor dan Kios segera akan diundang oleh Pansus. Dalam rangka mencari dalang pemain pupuk milik petani,” jelasnya.

Disamping itu, lanjutnya, LSM Berdikari melaporkan Produsen dan Kementan ke Polda Jatim. Kabarnya ada pemilik Kios dan Distibutor yang sudah diminta keterangan oleh Penyidik Polda.

Ditambahkan, sisa stok pupuk bersubsidi tahun 2021 untuk 2022 sudah habis dan stok pupuk sampai bulan Desember 2022 juga sudah habis. Kemana saja pupuk itu disembunyikan?.

Pansus mencari solusi bagaimana di tahun 2023, pupuk bersubsidi tidak langka lagi, sekalipun masih ada yang mau ‘langka’, tetapi tidak melangkakan pupuk. Alokasi Pupuk Bersubsidi tahun 2022 yang raib, urea 31.380.000 ton.
NPK 11.568.099 ton, SP36 1.548.000 ton, ZA 8.588.000 ton, Organik granular 3.243.000 ton, Organik Cair 1.423.000 Total : 57.750.099. Kalau 1 ton subsidinya Rp 8jt x 57.000 ton nilainya sekitar Rp 456.000.000.000,00 (Rp 400 milyar lebih). (sam/zen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *