Bupati Bener Meriah Buka Secara Resmi Festival Guel

MutiaraindoTV, Kabupaten Bener Meriah – Aceh. Festival guel dan fiesta panen kopi adalah rangakaan acara semarakan penutupan Gayo alas mountain Internasional Festival (Gamifest) Tahun 2019.

Gamifes yang dibuka pada 8 Agustus 2019 lalu di Kabupaten Gayo Lues, secara resmi ditutup di kabupaten Bener Meriah yang disemarakan bermacam aneka perlombaan dan antraksi kopi.

Bupati Bener Meriah Tgk. H. Sarkawi membuka Festival Guel dilapangan Umah Pitu Ruang Kampung Bale Atu Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah. Jum’at, 22 November 2019 malam.

Acara yang di buka malam hari ini adalah merupakan sebagian dari rangakain Gamifest, yang telah dibuka 8 Agustus 2019 lalu di Kabupaten Gayo Lues.

Tahun kemarin, Gamifest dibuka di Aceh Tengah dan ditutup Bener Meriah, Tahun ini dibuka di Gayo Lues dan juga ditutup di Bener Meriah. Insya Allah Tahun 2020 akan dibuka di Bener Meriah, dan akan ditutup di Kabupaten Gayo Lues.

Jadi Gamifest, adalah kegiatan yang dikoordinir oleh kementrian Kemenko PMK bersama Pemerintah Provinsi Aceh untuk Kabupaten – Kabupaten yang ada di Gayo yang mencakup 4 Kabupaten ini. “Sebut Sarkawi.

Bupati Bener Meriah itu menambahkan, Gamifest selama 3 Tahun ini akan digilir mudah – mudahan tahun ini akan berjalan dengan sukses sampai dengan selesai nantinya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif termasuk dibidang pariwisata dikawasan tengah.

” Konsep dasarnya Gamifest oleh komenko PMK untuk mengenakan ekonomi kreatif, untuk mengerakaan pariwisata di dataran tinggi Gayo (DTG)”, ujar Tgk. H. Sarkawi.

Lajut Tgk. H. Sarkawi, kawasan Gayo harus hidup secara bersamaan, tumbuh secara bersamaan diperkenalkan sekaligus keluar agar kawasan ini bisa berkembang seperti kawasan – kawasan strategis pariwisata nasional lainnya yang tumbuh di Indonesia.

Kita berharap, mudah – mudahan ini bisa berjalan dengan baik dan akan mendorong masyarakat untuk mempunyai kreativitas – kreativitas tingkat ekonomi dan pariwisata.

Sementara itu, mewakili Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Aceh, Suburhan SH kepala bidang bahasa dan seni. Dalam sambutanya mengatakan, Indonesia pada umumnya dan Provinsi Aceh khususnya kaya akan kebudayaan dan kesenian.

Dewasa ini budaya barat berkembang begitu cepat disemua lini kehidupan kita, sehingga budaya daerah menjadi dilupakan. Globalisasi memaksa dunia untuk menjadi satu warna, kalau saja kita tidak mengantisipasi dengan baik budaya lokal kita akan hilang. Karena di anggap kuno dan ketinggalan zaman, “kata Suburhan.

Padahal dari segi artistik dan sejarah budaya kita sangatlah menarik, maka itu kewajipan kita semua untuk menjaga dan melestarikannya.

Provinsi Aceh termasuk salah satu wilayah yang memiliki seni budaya sangat kaya, salah satunya Tari Guel yang begitu kata dengan seni gerak dan gaya. Tarian ini sangat berbeda dengan tarian tradisional lain Provinsi Aceh lainnya, karena ada unsur magis didalamnya.

Tari Guel memiliki gerakan unik dan penuh makna, sehingga tak jarang membuat penonton seakan terhipnotis dan terbawa suasana saat menyaksikannya, Tari Guel merupakan tradisi yang sangat terkenal dari tanah Gayo.

Konon kabarnya Tari Guel partama sekali dimainkan oleh Segeda Putra Raja Linge ke 13, cerita itu berawal dari mimpi Segeda bertemu dengan saudaranya yang telah wafat. Yaitu Bener Meria, didalam mimpi itu Bener Meria memberikan petunjuk agar Segeda memberikan Gajah Putih kepada Sultan Aceh.

Untuk mendapatkan Gajah Putih, Segeda dan beberapa penduduk melakukan do’a dan teriakan di tepi danau dekat makam Bener Meria. Prosesi yang dilakukan sesuai petunjuk yang didapatkannya dari mimpi sambil menyanyikan lagu yang sangat sedih, Segeda menari mengikuti irama musik gerakan seperti burung yang terbang mencari sesuatu. Tiba – tiba seekor Gajah Putih hadir ditengah prosesi tersebut, Segeda pun mendekati dan menjinakannya.

Selanjutnya Gajah Putih itu diserahkan kepada Sultan, tarian yang dimainkan Segeda itu kemudian disebut Tari Guel dalam perkembangannya. Tariaan ini kerap dimainkan dalam prosesi adat, dimana setiap gerakannya mengandung pesan dan nilai – nilai pilosofis sampai sekarang sangat disukai masyarakat tanah Gayo.

Tari guel mungkin tidak sepopuler tari lainnya seperti, Tari Saman atau Rato Jaro, namun Tari Guel sangat indah dan wajib bagi kita untuk melestarikannya.

Pemerintah Provinsi Aceh tentu tidak tingal diam untuk melestarikan seni budaya ini, maka itu Dinas Pariwisata dan Dinas Kepariwisataannya Provinsi Aceh bersama Pemerintahan Kabupaten Bener Meriah secara priodek menyelenggarakan perlombaan Festival Tari Guel. Yang di ikuti seluruh masyarakat Provinsi Aceh pengemar Tari Guel, demikian dipaparkan Kabid Bahasa dan Seni Dispar Aceh. (Samsudin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *