Bupati Sarkawi Minta Pengurus MAA Yang Dilantik Bukan Hanya Sekedar Mengenakan Kerawang

Mutiaraindotv, Bener Meriah – Aceh, sedikitnya ada empat lembaga  ke khususan yang diakui secara perundang-undangan, hal itu karena Aceh merupakan daerah istimewa.

Ke Empat Lembaga tersebut diantaranya, Lembaga Majlis Permusyawaratan Ulama (MPU), Lembaga Majlis Pendidikan Daerah (MPD), Baitul Mal, dan Majlis Adat Aceh (MAA) atau Majlis Adat Gayo (MAG) Kalau di Gayo. Dan kesemua lembaga itu memiliki tugas dan fungsi Masing – masing sesuai dengan peraturan berlaku.

Hal itu disampaikan Bupati Bener Meriah Tgk.H.Sarkawi, dalam sambutannya usai Melantik Pengurus Majlis Adat Aceh Kabupaten Bener Meriah Periode 2019 – 2023. Acara dilaksanakan di Aula Kantor Bupati Bener Meriah. Jum’at, 21 Juni 2019.

Bupati Sarkawi, menegaskan MAA atau MAG yang merupakan Lembaga keistimewaan yang memiliki Tugas dan Fungsi untuk Melestarikan Adat Istiadat yang ada di Gayo.

” Namun kami melihat selama ini keberadaan Lembaga MAA Bener Meriah sempat vakum yang cukup lama. Untuk itu guna untuk memaksimalkan perannya perlu dilantik kepengurusan yang baru “.Abuya Sarkawi, menambahkan saya berharap bagi Pengurus yang baru dilantik bukan hanya sekedar menggenakan Kerawang saja pada hari ini. Akan tetapi ada banyak hal yang harus dikerjakan untuk Melestarikan Adat Istiadat Gayo.

Lanjutnya, esensinya adalah bagaimana Perilaku Budaya, Perilaku Kehidupan kita sehari – hari. Nah disini kita melihat kadang ada jarak antara Lembaga yang ada dilapangan.

” Lembaga seperti dirinya, Lapangan seperti dirinya, tidak ada Kesinambungan antara Lembaga dengan kondisi kenyataan di masyarakat “, tutur Sarkawi.

Orang nomor satu di Daerah Penghasil Kopi Arabika itu berharap, keberadaan Lembaga Majlis Adat Aceh (MAA). Menjadi Lembaga menyambungkan yang terlibat langsung bagaimana menyelamatkan Kondisi Realita Dilapangan.

Menurut Bupati Bener Meriah, saat ini kondisi tergerusnya makna dan Praktek Adat sudah mulai terlihat dimana dalam kehidupan masyarakat Gayo, seperti sudah tidak ada lagi istilah ” Sumang ” dan Etika antara anak dan orang tuanya sudah tidak mencerminkan yang terpatri (tertanam) dalam Adat dan Budaya Gayo.Untuk itu, kedepan MAA harus membuat Program untuk Melestarikan Adat Istiadat Gayo. Apakah itu dengan turun ke Sekolah – sekokah untuk memberikan Sosialisasi dan lain sebaginya. Dan kalau perlu selalu Koordinasi dengan Instansi terkait untuk membuat Kurikulum. Seperti yang pernah kami lakukan waktu dulu agar adat Gayo terus dilestarikan. Harap Abuya Sarkawi.

Sarkawi, menegaskan selama ini ada beberapa Anggapan yang mengatakan Adat Gayo akan Punah kedepannya. Namun dengan tegas saya katakan tidak, Adat Gayo akan selalu ada dan harus tetap Lestari. Untuk itulah agar apa yang dikwatirkan itu tidak terjadi Kekhasanahan Adat Istiadat Gayo harus kita Jaga Bersama – sama. Tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Tgk.Sarkawi, juga menyebutkan semua yang Tinggal di Gayo adalah Orang Gayo, entah itu dari Suku Aceh, Jawa, Padang Batak dan lainnya karena Gayo itu Daerah. ” Namun kalau Suku Jawa tetap Jawa, Aceh tetap Aceh “, pungkasnya. ( Samsudin ).
editor ” Awi “

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *