Diduga Mengganggu Arus Lalu Lintas dan Perekonomian Masyarakat, Warga Tutup Tambang Dan Akses Jalan.

Mutiaraindotv.com, Situbondo – Puluhan pemuda dan masyarakat Desa Curah Suri, Kecamatan Jatibanteng, Kabupaten Situbondo, menutup akses jalan Desa Jatibanteng menuju Besuki. Sebab, warga sangatlah resah dengan adanya lalu lalang kendaraan dump truk pengangkut hasil galian C yang keluar masuk dari area pertambangan yang mengakibatkan jalan desa setempat mengalami rusak berat serta mengakibatkan arus lalu lintas terganggu.

Tokoh Pemuda Jatibanteng, Sunardi mengatakan penutupan tambang di Jatibanteng sebenarnya warga ini tidak mempersoalkan masalah tambangnya, namun warga ini menuntut agar pemilik usaha tambang di desa Curah suri ini membuka akses jalan sendiri.

” Supaya tidak mengganggu arus lalu lintas dari Kecamatan Jatibanteng menuju jalur Besuki, akibatnya akses perekonomian di Jatibanteng terganggu dan anak-anak yang mau pergi ke sekolah juga mengalami keterlambatan waktu, “kata Sunardi.

Lebih lanjut Sunardi mengatakan, warga Jatibanteng menutup keluar masuknya dump truk pengangkut hasil galian C atau tambang dari Jatibanteng ke Besuki, karena kapasitas tonase muatan dump truk membuat jalan di sepanjang Jatibanteng menuju Besuki mengalami kerusakan. Dan jalan yang rusak tersebut. Oleh pihak penambang hanya di tambal dengan sirtu. Sehingga membuat ruas jalan tersebut menimbulkan debu yang mengakibatkan arus lintas jadi terganggu.

” Masyarakat melakukan aksi hingga menutup jalan akses masuk ke tambang dan tidak memperbolehkan dump truck kembali masuk karena masyarakat menilai, jika aktifitas tambang yang dilakukan berlanjut efek sampingnya akan berdampak buruk bagi kelestarian alam dan lingkungan setempat dan menimbulkan gangguan polusi udara yang menimbulkan kerugian pada pedagang makanan di sekitar warung pinggiran jalan ini,”kata Sunardi Tokoh Warga Pemuda Jatibanteng, kemarin (14/12/2021).

Aksi ini dilakukan oleh masyarakat sekitar bersama pemuda yang intinya menuntut penutupan aktifitas pertambangan itu.

” Masyarakat mendesak penutupan atas aktifitas tambang pasir yang berada di Desa Curah Suri Kecamatan Jatibanteng, Kabupaten Situbondo, karena selain aktifitasnya mengganggu juga berdampak pada lingkungan dan akses lalu lintas saat para pelajar mau masuk dan pulang sekolah, ” tambah Sunardi.

Menurutnya, aktifitas pertambangan di desa Curah Suri, Kecamatan Jatibanteng tersebut dianggap telah mengganggu lingkungan, mulai dari polusi udara hingga suara dump truck yang tak kenal siang maupun malam tetap beroperasi.

” Mulai pukul 23.00 wib hingga sore hari pada hari berikutnya dan berlangsung tanpa henti setiap hari beroperasi, ” ungkap Sunardi.

Ditegaskan dia, jika tuntutannya tidak dipenuhi, maka warga mengancam akan menutup kegiatan pertambangan galian C berupa pengambilan pasir maupun tanah urug di Desa Curah Suri kecamatan Jatibanteng, karena aktifitas pertambangan ini kalau tidak punya akses jalan sendiri selain berdampak pada kerusakan lingkungan juga mengganggu arus lintas khususnya saat para pelajar mau masuk dan pulang sekolah serta menghambat perekonomian masyarakat.

” Aksi pemuda bersama warga menutup jalan ini sudah dilakukan kesekian kalinya. Sebab, kegiatan aktifitas galian C atau tambang tersebut mengakibatkan pada lingkungan mereka menjadi rusak, “tegasnya.

Kata dia, Desa Jatibanteng ini menjadi gersang dan tercemar polusi yakni udara yang berdebu yang mengakibatkan pemuda bersama masyarakat geram.

” Jika masih belum mempunyai akses jalan sendiri warga minta kepada penambang untuk sementara waktu tidak boleh beroperasi dulu dan dump truck tidak boleh masuk ke area tambang tersebut, “kata Sunardi.

Ditambahkan Sunardi, tuntutan warga agar dump truck pengangkut hasil galian C atau pertambangan yang setiap hari beroperasi hampir 24 jam membuat jalan di Kecamatan jatibanteng menuju Besuki menjadi rusak parah, hingga berakibat pada akses jalan menjadi hancur berantakan.

” Selain itu Beberapa warga yang berjualan dagangannya banyak yang terkena debu dari jalan yang dilalui oleh dump truck bermuatan material. Kami selaku masyarakat, menginginkan agar tambang segera ditutup dan tidak ada lagi kegiatan pertambangan, kecuali pemilik usaha tambang itu punya akses jalan sendiri, “pungkasnya. (Syam).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *