Diduga Pemkab Nias Barat Arahkan Busana Adat Nias Ke Khas Barat

MutiaraindoTV. Kabupaten Nias Barat – Sumatera Utara. Dari busana bernuansa baju adat khas Nias yang dikenakan para Putri Pariwisata Kabupaten Nias Barat diperayaan Hari Ulang Tahun (HUT), pembentukan Kabupaten Nias Barat Ke-10 Tahun 2019.

Sejumlah elemen masyarakat menilai dan menduga – duga Pemerintah Kabupaten Nias Barat melalui Dinas Pariwisata, akan melakukan inovasi busana adat khas Nias yang selama ini dibangga – banggakan ke fashion khas Barat.

Atas hal tersebut menjadi bahan perbincangan sejumlah elemen masyarakat dengan opini yang berbeda-beda, melalui media sosial maupun ditempat – tempat perkumpulan masyarakat.

Di medsos ada netizen berkomentar, “boleh maju tapi bukan berarti diubah… Kalo untuk menarik daya wisata justru pertahankan kita aslinya supaya ada yang beda, kalo model terbuka mah udah budaya bulee itu, udah biasa bagi mereka bahkan tanpa busana pun ga heran mereka.. Lalu apa yang menarik bagi mereka klo malah kita ikut – ikut budaya mereka???…., ” ujarnya.

Kemudian, ada yang berpandangan mengikuti perkembangan zaman tradisi tidak boleh luntur malah perlu dipertahankan bahkan menjadi filter bagi perkembangan tersebut.

“Zaman boleh berkembang teknology boleh canggih…, tapi tradisi tidak boleh luntur oleh gesekan arus globalisasi. Untuk itulah anak muda harus belajar kepada yang lebih tua, agar tatanan dan norma kultural setiap daerah mampu bertahan dan tetap hidup didalam diri setiap insan masyarakat kultur daerah tersebut.

“Dengan tradisi yg ada disetiap daerah menjadi karakter insan komunitas masyarakatnya menjadi pembeda setiap daerah, ”ungkapnya.

Untuk diketahui, atas fashion yang dikenakan para putri pariwisata di perayaan Hari Ulang Tahun Pembentukan Kabupaten Nias Barat Ke 10 Tahun 2019. Menuai saran dan kritikan dari sejumlah elemen masyarakat, baca : (“Fashion Putri Pariwisata Di Hari Ulang Tahun Kabupaten Nias Barat Ke-10 Menuai Kritikan”).

Salah seorang penggiat dan pemerhati budaya Nias. Pastor Aaron T. Waruwu, OSC dalam perbincangannya dengan Wartawan Media MutiaraindoTV pada Jum’at 31 Mei 2019 mengatakan, busana para Putri Pariwisata itu ada kaitannya dengan motif dan warna busana adat Nias. Dinilainya pakaian itu modifikasi dari gaun malam, dan long dress untuk dansa di Eropa.

“Pakaian 3 orang finalis tentu ada kaitannya dengan motif dan warna busana adat nias, namun modelnya masih terbuka… Di luar kepatutan dalam budaya nias, untuk acara keagamaan pasti tidak pantas. Pakaian itu modifikasi dari gaun malam dan long dress untuk dansa di eropa, ”ujarnya.

Kemudian dari cermatannya yang dikutip dari WhatsApp Groop Gelora Hukum (Pers), mengungkapkan : Etiket Berbusana dalam Budaya Nias.

” Perempuan Nias dan Harga Diri “

Seorang perempuan Nias sangat dijunjung tinggi martabatnya, penghargaan terhadap perempuan, salah satunya, ditunjukkan pada saat menikah. Perempuan ditandu (Nias : Lafahea, Lafazawa, Tebai ihundragӧ danӧ) ketika berangkat dari rumah orangtuanya menuju rumah suaminya.

Sebaliknya, perempuan yang kurang terhormat karena telah merendahkan martabatnya (Cacad Moral) tak pantas ditandu, seperti sabeto (Hamil Di Luar Nikah), soloi (Kawin Lari), nira’u (Terculik). Upacara ini menyimbolkan bahwa perempuan ‘dimuliakan’, ditinggikan, dan dihormati.

Di sisi lain, perempuan menjadi simbol harga diri dan kehormatan dari keluarga. Menyakiti atau mempermalukan perempuan sama dengan menyakiti atau mempermalukan keluarganya, terutama saudara laki – lakinya. Oleh karena itu, perempuan selalu dijaga dan dilindungi kehormatan serta nama baiknya oleh keluarga.

Untuk menjaga dan melindungi nama baik seorang perempuan, ada beberapa aturan adat yang menegaskan penghargaan terhadap perempuan itu. Aturan adat itu menjamin bahwa perempuan harus terjaga dan terlindungi nama baiknya oleh perempuan itu sendiri maupun orang lain; misalnya Aturan Bertutur (Tebai Palele : seorang perempuan tak boleh memaki, apalagi dimaki orang lain).

Aturan Berperilaku dalam Pergaulan (Tebai Fao Wofanӧ Bandra Matua Sitenga Dongania : tak boleh pergi bersama laki – laki yang bukan suaminya), aturan berbusana.

” Aturan Berbusana Perempuan “

Pada zaman dahulu, aturan ini tidak terlalu penting dan jelas. Karena pada awalnya nenek moyang kita hanya memakai kulit kayu bahkan dedaunan untuk menutupi bagian kelamin saja yang disebut Saombӧ (Cawat).

Kemudian berkembang lagi, Bulu Ladari dan Uli Goholu (Jenis Daun dan Kulit Kayu) mulai dianyam untuk menutupi tubuh, selain bagian kelamin dada ditutup. Seiring perkembangan zaman, benang dan kain mulai diperkenalkan oleh pendatang (Pedangang, Misionaris Dll). Maka. Hampir semua tubuh ditutupi, kecuali kepala dan betis bagian bawah.

Mengenai warna khas bisa menjadi perdebatan, apakah dipengaruhi oleh misionaris Jerman (Bendera Jerman : Hitam, Merah dan Kuning) atau memang dari sononya naluri orang Nias senang warna kuning, merah, dan kuning? Saya priadi berpendapat warana khas Nias (Merah-Berani/Satria, Kuning- Emas/Kemakmuran, Hitam-Arang/Pengorbanan, Kaitan Dengan Mistis dan Arwah Leluhur) terpelihara secara baik dari warna kekhasan daratan Tiongkok.

Mengingat nenek moyang orang Nias berasal dari daratan sana, bisa diperbandingkan dengan warna khas yang serumpun dengan Nias seperti Suku Dayak di Kalimantan.

Adapun prinsip utama dalam berbusana bagi perempuan adalah Bӧi Oroma Zafusi Nӧsi (Tabu Memperlihatkan Bagian Tubuh Yang Lebih Putih). Tubuh yang lebih putih adalah bagian tubuh yang sehari-harinya ditutupi pakaian, sehingga bagian tubuh lain lebih belang karena langsung kena sinar matahari. Untuk memperjelas hal itu, ada beberapa bagian tubuh yang disebut secara khusus:

  • A. Bӧi Oroma Narӧ Waha/So Bagi Moyo (Tabu memperlihatkan paha bagian dalam) – pada umumnya rok panjangnya di bawah lutut.
  • B. Bӧi Orama Dӧtӧ’a (Tabu memperlihatkan dada, apalagi belahan dada) – kerah baju tinggi sehingga dada tertutup.
  • C. Bӧi Oroma Narӧ Galogo (Tabu memperlihatkan ketiak) – baju harus berlengan.
  • D. Boi Oroma Wusӧ Ba Lafoyo (Tabu memperlihatkan pusar dan pinggang kiri dan kanan) – kaki baju harus menutupi pinggang.
  • E. Bӧi Amawa Mbisiu (Tidak memajang betis seperti barang jualan) – di daerah tertentu rok harus menutupi betis bahkan sampai mata kaki.

Bila seorang perempuan Nias tidak mengindahkan kaidah berbusana tadi, maka diberi teguran dan sanksi secara langsung maupun tak langsung, misalnya La’otu’ӧ (Dinasihati secara keras di depan umum) dan Lafotӧi (Diberi ‘gelar’ berupa sindiran).

Beberapa istilah yang diberikan kepada perempuan yang tidak peduli busana yang dikenakan :

  • A. Si Lӧ Mangila Huku (Tidak tahu hukum/adat).
  • B. Si Lӧ Ngaroro (Tak berguna, karena telah merendahkan harga diri dan nama baik dirinya dan keluarganya).
  • C. Mbayu (Perempuan murahan – disamakan dengan pelacur yang mengubar kemolekan tubuhnya untuk menarik simpatik calon pelanggan).

Salah satu cara mempermalukan dan mencoreng nama baik serta merendahkan martabat perempuan ialah Laheta Gu’i (Dilepaskan roknya di depan umum), artinya bagian tubuhnya yang mestinya ditutupi dan dijaga (Privacy) dipertontonkan kepada khalayak (Public) sebagai tanda bahwa perempuan tersebut sudah tak memiiki harga diri lagi.

Hal ini masih diberlaku di Nias hingga saat ini. Boleh dikatakan, harga diri (Martabat) dan nama baik seorang perempuan Nias akan terjaga dengan baik bila perempuan itu sendiri menjaga dan mengapresiasi tubuhnya secara tepat dalam kaidah adat.

Permenungan kita adalah apakah seorang perempuan yang dengan sadar memakai baju atau berbusa bagus, tapi memperlihatkan bagian tubuhnya yang mestinya tertutup dalam perspektif kearifan lokal masih memiliki harga diri dan nama baik secara adat atau justu merendahkan dirinya sendiri pada jaman now?

” Seni dan Fashion “

Seni itu sendiri bebas nilai, tak bisa disalahkan. Oleh karena itu, seni memiliki kekuasan dan kekuatan untuk menyentuh ruang tabu dan menjangkau ruang pribadi (Privacy). Seni juga mampu mempengaruhi dan mengekspos hal-hal tersembunyi dan luput dari perhatian banyak orang. Sekaligus, seni menjadi media menyampaikan pesan yang ampuh.

Akan tetapi seni sebagai produk budaya mememiliki keterbatasan. Maksudnya, seni menjadi energi hanya pada ruang dan waktu serta budaya tertentu. Seni bela diri Gladiator dari Kekaisaran Romawi sangat mudah dinikmati oleh penduduk Roma Kuno, karena mereka sangat membutuhkan petarung tangguh, sadis, dan haus darah sebagai simbol prajurit Roma. Parade seni dan Karnaval Brazil sangat hidup disana sebagai bagian dari budaya mereka sehari sebelum menghadapi Masa Puasa (Upacara keagamaan untuk melawan kekuatan godaan setan).

Bayangkan kalau hal itu dihidupkan di Nias? Pasti kita pusing tujuh keliling, muntah darah karena melihat darah yang mengucur. Maka Nias mengembangkan seninya untuk memberi pesan kearifan lokalnya, misalnya Maena sebagai pesan kebersamaan, sile untuk pesan keindahan gerakan tubuh dan kemampuan membela diri.

Fashion adalah seni berbusana yang mengeksplor tubuh dan busana. Pertumbuhannya sangat cepat dan memiliki daya ledak yang bombastis. Up to date dan dan trendy. Umumnya, busana menekankan fungsional, melindungi tubuh dari cuaca.

Tetapi dalam fashion, unsur fungsional dan praktis sering terabaikan, karena seni lebih diutamakan terutama dalam model, keunikan, dan keindahan. Coba bayangkan gaun wanita yang beratnya lebih dari 40 kg. Capek deh… tetapi sebagai seni sah-sah saja hanya tidak prakstis mengenakannya.

Tetapi, sebagai produk budaya global dan moderen fashion memiliki juga keterbatasan. Fashion bisa mati kutu karena ditolak atau bertentangan dengan kearifan lokal. Dalam budaya tertentu, tubuh menjadi sakral, tabu untuk dipublikasikan. Maka, sah pula bila budaya tertentu menolak dan menganggap aneh bila fashion dari luar menggerogoti tata nilai kepatutan di dalam masyarakat tertentu.

Itulah kekuatan dan daya tahan dari kearifan lokal. Artinya, trend berbusana tidak serta merta diterima di semua tempat, tergantung kebiasaan, tata nilai kepatutan dan iklim di tempat tertentu. Contohnya, pakian musim panas di negara yang memiliki 4 musim seperti bikini tidak serta merta di diterima di Nias kendati Nias beriklim tropis. Kerena, Nias memiliki nilai kepatutan berbusananya sendiri.

Celakanya, banyak orang menjadi korban fashion, tanpa filter dan adaptasi. Misalnya, korban trend fashion Korea saat ini (Rok pendek, tipis dan lebar) sering dipakai Putri – Putri Nias kalau ke rumah ibadat. Akibatnya, sang putri sibuk memegang roknya ketika diterpa angin dan menjadi pusat perhatian atau objek para lelaki yang matanya seringkali nakal.

Seni dan Fashion mestinya menjadi sarana untuk mengekplor dan menyuarakan pesan kearifan lokal dalam berbusana Nias, Kearifan Lokal Nias menjadi filter dalam mengikuti trend fashion sehingga fashion Nias pun menjadi trend dan tetap up to date. Dalam kerangka budaya, trend fashion bisa kita terima bila memperkaya khazanah budaya Nias, tetapi bisa kita tolak dengan tegas bila merusak tata nilai dan kepatutan dalam masyarakat Nias.

” Putri Pariwisata Nias Barat 2019 “

Ketiga finalis Putri Pariwisata Nias Barat 2019 telah mengenakan busana yang trendy bermotif busana adat Nias. Kreatif dan fashionable. Tanggapan negatif sebagian masyarakat timbul bukan karena sentimental. Tetapi karena busana tersebut, telah melukai cita rasa budaya masyarakat.

Martabat dan nama baik seorang perempuan seolah ‘sengaja’ direndahkan karena memperlihatkan bagian tubuhnya yang tidak patut di dikonsumsi publik, seperti belahan roknya terlalu tinggi, dada dan ketiak tidak tertutup dengan sempurna. Apalagi ada embel – embelnya Putri Pariwisa Nias Barat, pasti menjadi duta wisata dan budaya Nias Barat.

Nah, apakah busana tersebut bisa menjadi representatif budaya Nias Barat? Bagi yang menghidupi kearifan lokal dengan baik pasti menolak model busana seperti itu. Bagi yang mengikuti tend fashion pasti permisif tentang kearifan lokal karena busana itu dianggap sebagai produk seni dan trendy.

Saya berpendapat bahwa kreatifias menciptakan busana trendy seperti ini patut dihargai, tetapi tidaklah patut dikenakan oleh seorang yang bergelar Putri Putri Pariwisata Nias Barat, karena busana tersebut bertentangan dengan kearifan lokal Budaya Nias Barat yang menghargai martabat dan nama baik seorang perempuan Nias Barat. Busana tersebut sangat baik dipergunakan untuk fashion show dimana kreatifitas dan seni menjadi prioritas.

Selanjutnya, saya sarankan kepada Pemda Nias Barat dalam hal ini Dinas Pariwisata supaya lebih arif dan selektif dalam memilih busana para Putri Pariwasata Nias Barat supaya sungguh – sungguh menjadi representatif budaya dan tidak melukai cita rasa budaya masyarakat Nias Barat. Yaahowu. P. Aaron T. Waruwu.

Hingga berita ini ditayangkan oleh Media MutiaraindoTV, belum berhasil melakukan konfirmasi kepada Pemkab Nias Barat, apakah seni ini ada hubungannya menuju Sail2019 yang akan diselenggarakan di Kabupaten Nias Barat. (AH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *