Diduga Selama 17 Tahun PT.CTA Belum Berizin Dan Sulap Kawasan Hutan Lindung Menjadi Hamparan Kebun Sawit

Mutiaraindotv, Sekayu – Musi Banyuasin, Perkebunan Kelapa Sawit lebih kurang ribuan Hektar yang terletak di Desa Muaro Bahar, Dusun I RT. 03 RW. 01, Teluk Beringin, Kecamatan Bayung Lincir, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Yang mana Perkebunan tersebut telah berdiri di Tahun 2004 (17 tahun), merupakan Hak Milik dari Perusahaan PT. Citra Tunggal Asri ( PT. CTA ). Jum’at, 16 April 2021.

” Hal ini juga sangat di sayangkan, bahwa Perkebunan Kelapa Sawit tersebut, melintasi Sungai Bahar, Sungai Lalan dan Sungai Kandang “.

Pantauan Tim Media Grup dan LSM Brantas, bahwa Perusahaan tersebut mempunyai gedung yang cukup sederhana dan tak mempunyai Papan Nama Perusahaan, hanya spanduk bertuliskan PT. Citra Tunggal Asri. Dan juga banyak gedung yang berdiri di sekitar lokasi Kantor dan Perkebunan Kelapa Sawit. Serta alat berat dan juga mobil operasional yang ada di sana, namun sangat di sayangkan pihak Perusahaan, baik Direktur, Asisten maupun Manager tak ada di tempat dan hanya ada pihak Security saja.

Yang lebih sangat mengherankan lagi ketika Tim menelusuri Perkebunan Kelapa Sawit milik PT. CTA di temui tanaman Kelapa Sawit yang di tanam oleh Perusahaan dekat sungai sekitar kurang lebih 50 Meter.

Sementara itu Kades Muaro Bahar Indra Guntur, saat di wawancarai melalui via telfon, apa lahan yang di kelola oleh PT. Citra Tunggal Asri itu Lahan Kawasan…?, Kades mengatakan setahu saya Iya Pak..!. Dan terkait masalah Izin dari pihak Kehutanan dan Perizinan, saya kurang Faham, ujar Kades.

Dan terkait masalah Pemerintah Daerah sudah perna dan tau ataupun cek lokasi Perkebunan Sawit milik PT tersebut, Lanjut Kades bahwa memang betul itu hutan kawasan, akan tetapi kalau hal-hal yang lain kita kurang Pantau soalnya itu kan jauh sebelum saya jadi Kepala Desa, Pak…?. Karena sebelum saya jadi Kades, Perusahaan tersebut sudah ada itu Perusahaan PT. Citra Tunggal Asri. Yang saya tau, semenjak saya mulai tinggal di Muaro Bahar, dan sebelum menjabat sebagai Kepala Desa. Dan saya masuk (tinggal) di Muaro Bahar ini, tahun 2010 dan Perusahaan tersebut sudah ada. Dan masalah MoU (untuk Income Desa), nah masalah itulah Pak…? kita tidak faham. Kalaupun itu ada MoU ataupun tidak,  saya kan baru menjabat Kepala Desa ditahun 2016 akhir. Dan perusahaan sudah ada, kalaupun masalah – masalah bantuan terkait perbaikan jalan dan adanya kegiatan di Desa mereka bisanya membantu, ucap Kades.

Lebih lanjut penjelasan Kades, bahwa  Perusahaan PT. Citra Tunggal Asri itu berasal dari mana, kita tidak faham Pak..!. Dan untuk sosialisasinya kepada Masyarakat, seperti Bantuan untuk masyarakat sekitar Perusahan Perkebunan, mereka sering membantu dan untuk masalah Dana CSR, belum ada, pungkasnya.

Di lain pihak Nadi menambahkan, bahwa dirinya berharap untuk Perusahaan Nakal yang berada di Musi Banyuasin, terutama seperti PT. Citra Tunggal Asri ini, dapat di kenakan sanksi hukum pidana atau pemberhentian operasional. Sehingga warga Masyarakat Desa Muaro Bahar, terselamatkan dari dampak dari kerusakan hutan. Dan masalah hutan kawasan, yang diambil dapat dikembalikan ke Pemerintah. Serta lahan yang sudah di tanam sawit yang ada di Kawasan Hutan Lindung, harus di binasakan seluruhnya. Dan alat berat milik perusahaan tersebut yang ada di lokasi, dilakukan penyitaan oleh pihak Kehutanan bersama APH, ucapnya.

Sedangkan Yus, warga Desa Muaro Bahar menyampaikan bahwa Perusahaan PT. Citra Tunggal Asri tersebut telah berdiri pada tahun 2004. Dan terkait Tanah Perkebunan Kelapa Sawit disini hanya 200 Hektar yang bersertifikat. Apalagi sawit-sawit yang di tanam oleh perusahaan juga banyak diareal Daerah Aliran Sungai (DAS) yaitu  Sungai Bahar, tegasnya.

Sementara itu Ketua LSM berantas Kabupaten Musi Banyuasin Suwandi mengatakan PT. Citra Tunggal Asri diduga telah menyulap Hutan Lindung menjadi Kebun Sawit dengan modus menjadikan Masyarakat setempat sebagai karyawannya. Dan luas Perkebunan Sawit seluas 1360 Hektar milik PT. Citra Tunggal Asri, diduga akan memperluas lahan perkebunan dengan melakukan perambahan hutan kawasan. Dan hasil dari buah sawit tersebut, sisten penjualan hasil panen itu, di jual ke PT. MAS yang berada di Desa Patin. Dan juga diduga kuat, bahwa perusahaan ini ada MoU dengan pihak pabrik milik PT. MAS dan menggarap lahan di sisi kanan dan kiri lahan perusahaan ini.

Lebih lanjut lagi suwandi kordinator tim mencari kebenaran terkait Perusahan PT. CTA, diantaranya LSM Brantas dan Media Grup yang tergabung yaitu Media Mutiaraindotv dan Media Global Investigasi ini, dalam waktu dekat ini Tim akan melaporkan permasalahan dari PT. QCitra Tunggal Asri ke Kementrian Kehutanan, Kapolda Sumatera Selatan, Dinas Lingkungan Hidup. Ini bertujuan untuk segera memproses secara hukum. Yang berdasarkan Undang-undang yang berlaku di Negara Republik Indonesia. Terkait penggarapan lahan di Hutan Kawasan, yang bisa di kenakan sanksi Pidana 10 Tahun penjara kurungan penjara dan denda seratus juta rupiah, tutupnya. (Tim MITV).

editor ” Awi “.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *