GCA Bukan Milik Negara Indonesia

MutiaraindoTV, Jakarta. Global Collateral Account (GCA) memang sebuah pesona dalam realitas dan dinamika moneter internasional, walaupun selama ini menjadi tanda tanya namun belakangan ini banyak pihak yang mulai melirik GCA.

“Sejak Tahun 2017, Rusia telah melakukan komunikasi dengan perwakilan Collateral House di Belanda untuk memanfaatkan dana GCA dengan Nomor Rekening 103357777 atas nama Inderawan Hery Widyanto (IHW).

Permintaan Rusia ini memang tidak salah karena GCA memang bukan milik negara tapi adalah milik putra Indonesia yang tentu saja bila ada kehendak baik bisa dimanfaatkan oleh Pemerintah Indonesia. Tentu dengan izin si pemilik,” buka Juru Bicara The Collateral House Amir Hamzah kepada media. Sabtu, 13 November 2021.

Amir melanjutkan, serah terima posisi Presidensi G20 dari Perdana Menteri Italia kepada Presiden Joko Widodo, pada 31 Oktober lalu, diwarnai oleh berbagai krisis. Cina, yang selama ini menjadi andalan pemerintahan Presiden Jokowi untuk mendapatkan dukungan keuangan serta realisasi pembangunan infrastruktur, juga dilanda oleh berbagai krisis.

Berbarengan dengan krisis keuangan, energi dan pangan serta bencana alam yang belakangan ini sudah dan sedang dialami Cina, beberapa negara Eropa, dan AS/Kanada juga sedang dilanda krisis. Baik krisis keuangan maupun krisis energi.

Dilatarbelakangi oleh krisis keuangan dan ekonomi yang sedang melanda banyak negara, menurut Amir, maka negara – negara yang tergabung dalam G20 yang saat ini posisi Presidensi nya dipegang Presiden Jokowi, dalam lebih kurang dari 150 kali persidangan sampai dengan 30 November 2022 nanti, akan merumuskan gagasan – gagasan baru yang intinya adalah untuk memperkuat ketahanan ekonomi domestik menuju perkuatan ekonomi global.

Dalam rangka merealisasikan agenda – agenda aksi sepanjangan Tahun 2022 yang juga akan dipengaruhi oleh kewajiban banyak negara untuk melakukan penanggulangan terhadap pengaruh perubahan iklim, maka banyak negara – negara besar berada dalam kondisi minus keuangan dan defisit anggaran untuk merealisasikan agenda aksi mereka.

Di samping itu, di kawasan Asia khususnya di Thailand, pemerintahnya sedang mempersiapkan konsep digitalisasi keuangan dan fiskal serta moneter. “Untuk mendukung realisasi program dimaksud, Raja Thailand telah memberi persetujuan kepada pemerintahnya untuk memanfaatkan dana GCA.

Dalam kaitan itu, maka otoritas moneter Thailand telah melakukan komunikasi dengan Collateral House untuk mempersiapkan rumusan kerjasama antara Pemerintah Thailand dengan IHW untuk memanfaatkan dana GCA dimaksud,” ujar Amir.

Sementara di sisi lain, masih kata Amir, seorang konsultan ekonomi moneter dari Italia juga telah berkomunikasi dengan Collateral House untuk menjalin kerjasama pemanfaatan dana GCA yang ada dalam rekening di salah satu bank komersial di Italia.

Menurut Amir, realitas dan dinamika baru yang muncul dalam sebulan terakhir ini karena beberapa negara Ini Eropa telah menyampaikan keinginannya kepada Collateral House untuk memanfaatkan dana GCA ini.

Permintaan mereka kepada Bank Dunia agar memberi persetujuan dana GCA di seluruh perbankan komersial juga bisa juga terdiri dari rekening mata uang Euro, menurut mereka hal ini akan mempermudah kemungkinan bagi negara – negara Uni Eropa untuk memanfaatkan dana GCA untuk kepentingan penyelenggaraan pemerintahannya terutama untuk merespons dampak yang timbul dari krisis energi dan iklim yang indikasinya sudah mulai terlihat.

“Tidak mau kalah dengan Uni Eropa, Rusia juga sudah menyampaikan keinginannya kepada Bank Dunia agar di seluruh perbankan komersial bisa ditetapkan pula rekening GCA dengan mata uang Rubel,” sebut Amir.

Melihat perkembangan ini, imbuh Amir, banyak orang berpendapat bahwa rekening GCA dengan nomor itu atas nama IHW adalah sumber daya nasional yang tak ternilai harganya. “Pertanyaannya sangat sederhana, mengapa banyak negara lain terutama negara – negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, Kanada, Uni Eropa, demikian pula halnya dengan Thailand dan Malaysia di Asia Tenggara yang secara serius memperlihatkan minatnya terhadap adanya rekening GCA namun sumber daya nasional ini sampai sekarang masih belum mendapatkan perhatian dari Pemerintahan Jokowi. ”Pungkas Amir. (Agus Yusbiyadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *