Global Collateral Account (GCA) Milik Orang Indonesia Inderawan Hery Widyanto

MutiaraindoTV – Jakarta. Belakangan ini keberadaan Global Collateral Account (GCA) bernomor 103.357.777 milik Inderawan Hery Widyanto, sedang menjadi perbincangan publik setelah dipublikasikan media.

Banyak yang sebelumnya tak tahu menjadi tahu, namun yang kini tahu banyak pula yang tak percaya karena ternyata ada Anak Bangsa yang memiliki uang yang luar biasa banyak, dan telah digunakan banyak negara, termasuk negara adidaya Amerika Serikat, dan negara maju seperti Jepang, untuk mengatasi masalah keuangan di negara – negara itu.

Sekilas, bagi yang baru tahu, keberadaan Global Collateral Account (GCA) tak ubahnya bagai sebuah cerita fiksi, karena melibatkan organisasi Internasional bernama Committee 300, bank-bank sentral di dunia, termasuk Bank Indonesia, dan uang dengan nilai yang sangat luar biasa banyak. Bahkan ketika keberadaan rekening itu di Bank Indonesia (BI) dikonfirmasi kepada Ajeng Rebecca dari bagian Departemen Komunikasi Bank Sentral Indonesia tersebut, dia hanya mengatakan akan melakukan konfirmasi ke Pejabat Bank Indonesia (BA) terkait, namun setelah itu tidak memberikan keterangan apapun.

Amir Hamzah, pengamat kebijakan publik yang mengungkap keberadaan Global Collateral Account (GCA) dan memiliki akses langsung ke Inderawan mengatakan, keberadaan Global Collateral Account (GCA) diketahui oleh departemen di Bank Indonesia (BI) yang menangani treasury, yakni departemen yang menangani aktivitas finansial yang berkaitan dengan 3 aktivitas utama, yaitu manajemen kas, investasi kas, dan transaksi pembayaran.

“Di luar departemen itu saya rasa tak tahu,” katanya kepada wartawan di Jakarta. Minggu, 22 Agustus 2021.

Dia menjelaskan, keberadaan Global Collateral Account (GCA) milik Inderawan dapat ditelusuri melalui client information sheet (CIS) di Bank Indonesia (BI) yang berisi biodata tentang pemilik rekening tersebut, dan juga dari rekening berkode 103, sesuai tiga angka di depan nomor Global Collateral Account (GCA) tersebut, yakni 103.357.777.

“Rekening bekode 103 itu merupakan rekening penampung royalti yang dibayarkan negara – negara yang memanfaatkan Global Collateral Account (GCA), dari rekening berkode 103 tersebut. Royalti dapat ditransfer ke rekening milik Inderawan yang tiga di antaranya berada di Bank Milik Pemerintah,” jelas Amir.

Ketua Budgeting Metropolitan Watch (BMW) itu menyebut, tiga rekening milik Inderawan di Bank Pemerintah di antaranya berada di Bank Mandiri dengan nomor 903988xxx, sedang rekening Inderawan di bank swasta di antaranya berada di BCA dengan nomor 562553xxx.

Amir mengingatkan, “bahwa jika Pemerintah ingin menggunakan dana di Global Collateral Account (GCA) untuk menutupi defisit APBN, maka royalti yang telah dibayarkan pemerintah Amerika Serikat sebesar US$ 25 miliar dan dari Jepang sebesar US$ 238 miliar, harus lebih dulu ditransfer Bank Indonesia (BI) ke rekening-rekening milik Inderawan itu.

Seperti diberitakan sebelumnya, menurut Inderawan kepada Amir, Jepang telah delapan kali menggunakan dana Global Collateral Account (GCA) sejak 2010, dan dari setiap penggunaan itu, Jepang membayar royalti sebesar 0,5%, sehingga total royalti yang dibayarkan mencapai US$ 238 miliar.

Sementara AS menggunakan dana Global Collateral Account (GCA) di masa presiden negara itu dijabat Donald Trump. Dari komitmen penggunaan sebesar US$ 5 triliun, hingga Trump lengser pada 20 Januari 2020 dan digantikan Joe Biden, baru terealisasi US$ 2,5 triliun dan telah pula membayar royalti US$ 25 miliar.

Menurut Amir, berdasarkan keterangan Inderawan, royalti dari AS dan Jepang dengan total US$ 263 miliar tersebut telah ditransfer ke Global Collateral Account (GCA) Inderawan di Bank Indonesia (BI), tapi hingga kini dana itu tertahan di sana, dan belum masuk ke rekening – rekeningnya di Bank Lemerintah maupun Swasta.

Global Collateral Account (GCA) jelas Amir, merupakan rekening yang berada di bank sentral-bank sentral anggota Committee 300, di antaranya Barclays Bank PLC dan JP Morgan Chase Bank New York, dan dikelola dengan quantum financial system (QFS). Dana Global Collateral Account (GCA) ini dapat digunakan dengan skema humanity for humanitarian, namun setiap penggunaannya dikenakan royalti 0,5%.

“Prioritas pnggunaan dana Global Collateral Account (GCA) ditujukan untuk memperkuat tata kelola Pemerintahan,” jelas Amir.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana Inderawan memiliki GCA?.

Amir menjelaskan, “berdasarkan keterangan Inderawan, pada 1933, ketika AS bangkrut akibat great depression yang dipicu kejatuhan Wall Street pada 1929, buyut Inderawan membantu AS dalam bentuk emas.

Bantuan itu kemudian dikembalikan melalui bank-bank anggota Committee 300, dan dijadikan Global Collateral Account (GCA) agar dapat digunakan negara – negara yang sedang membutuhkan bantuan untuk mengatasi masalah di dalam negerinya, baik untuk pembangunan maupun membayar utang.

Amir mengatakan, pejabat tertentu di Indonesia telah lama tahu tentang adanya Global Collateral Account (GCA). Indikasinya, adalah pemerintah pernah mengeluarkan surat keputusan yang menyatakan bahwa pemilik rekening itu telah meninggal.

Kemudian pada Tahun 2010, seorang pejabat tinggi Indonesia menemui ketua Committee 300, yaitu Ratu Elizabeth dari Inggris, untuk mencairkan dana itu, tapi gagal karena tanda tangan Inderawan yang dipalsukan, tidak cocok dengan tandatangan Inderawan yang asli yang terekam di database bank.

“Inderawan adalah generasi ke-15 dari pemilik rekening itu,” jelas Amir.

Sebelumnya, Amir mengatakan bahwa Inderawan bersedia menggelontorkan bantuan sebesar US$ 1 triliun kepada pemerintah Indonesia untuk mengatasi defisit APBN yang pada Tahun 2022 diproyeksikan sebesar 4,85% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atau Rp 868 triliun sebagaimana diungkap Presiden Jokowi saat membacakan Rancangan APBN Tahun 2022 di DPR.
(Agus Yusbiyadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *