Kampanye Percepatan Penurunan Stunting Tingkat Kabupaten/Kota Tahun 2022 Bersama BKKBN Dengan Mitra Kerja Anggota Komisi IX DPR-RI drg. Putih Sari, MM

MutiaraindoTV, Kabupaten Bekasi – Jawa Barat. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Provinsi Jawa Barat bekerjasama dengan Mitra kerja Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI), mengadakan sosialisasi yang bertemakan “Kampanye Percepatan Penurunan Stunting Tingkat Kabupaten/Kota.

Di hadiri Safina Salim, SKM., M.Kes, Direktur Bina Kesehatan Reproduksi. Dr, Wahidin, M.Kes dari BKKBN Provinsi Jawa Barat, Dedi Supratman yang Mewakili drg. Hj. Putih Sari, MM, Drs. H. Jaini, MM, Sekdin PPKB Kabupaten Bekasi, H. Harun Arrasid selaku Kepala Desa Sukawijaya, Bimaspol, Tokoh Agama serta Tokoh Masyarakat. Acara berlangsung di Gedung serbaguna Desa Sukawijaya, Kecamatan Tambelang, Kabupaten Bekasi. Kamis, 17 Oktober 2022.

Dedi Supratman mewakili Putih Sari mengatakan, “Ibu Putih Sari minta maaf yang sebesar besarnya kepada semua hadir, beliau belum bisa hadir di karenakan masih kurang sehat. Beliau berpesan kepada saya agar menyampaikan pentingnya kita menjaga kesehatan, karena kesehatan sangat penting untuk kita dan keluarga kita.

Lanjut Dedi, Stunting ialah kekurangan gizi pada balita yang berlangsung lama dan menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak karena mengalami kekurangan gizi menahun, balita stunting tumbuh lebih pendek dari standar balita seumurnya.

Masih kata Dedi, akibat stunting pada balita bisa terganggu perkembangan otak dan fisik balita, hal ini akan membuat balita sulit mencapai prestasinya kelak. Balita akan lebih rentan terhadap penyakit, selain itu kelak saat dewasa akan lebih mudah mengalami penyakit jantung diabetes dan lainnya.

Dr.Wahidin menyampaikan, kekurangan gizi menahun khususnya pada masa 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang di mulai dari masa kehamilan hingga balita berumur 2 tahun. 1000 HPK merupakan periode emas pertumbuhan balita.Pada periode tersebut 80% otak balita berkembang, masa ini tidak akan terulang.

Berikutnya, secara umum kekurangan gizi dikarenakan kekurangan asupan gizi karena pola asuh yang kurang tepat dalam pemberian makan balita baik dari jumlah dan jenisnya, paparan kuman/bakteri pada balita di karenakan lingkungan yang tidak bersih.

“Infeksi bakteri akan mengakibatkan asupan gizi untuk pertumbuhan balita yang terpaksa di gunakan tubuh melawan infeksi bakteri, bakteri bersumber dari lingkungan yang kurang sehat atau dari kita yang dengan kebiasaan tidak mencuci tangan setelah beraktivitas di luar maupun di dalam rumah.

Lanjutnya, pernikahan haruslah wanita di usia 21 tahun, sedangkan yang laki – laki di usia 25 tahun. Karena wanita di usia 21 tahun rahimnya sudah siap untuk mengandung, sedangkan usia di bawah 21 tahun rahimnya masih tipis dan belum siap untuk mengandung, kalau di paksakan akan berbahaya pada ibu dan si bayinya. “Ucapnya.

Dr. Jaini menambahkan, “periksakan kehamilan minimal empat kali dan melibatkan suami, minum tablet penambah darah untuk mencegah kekurangan darah/anemia. Tambah satu porsi makan pada ibu hamil, konsumsi protein hewani, Yaitu : Ati, Telur Ikan (ATIKA).

Selanjutnya, saat melahirkan di fasilitas kesehatan, rumah sakit atau bidan,berikan imunisasi sesuai jadwal di Posyandu untuk mengetahui perkembangan si bayi dan berikan ASI (Air Susu Ibu,) saja sebanyak mungkin.Untuk bayi usia 6 sampai dengan 2 tahun berikan ASI (Air Susu Ibu) sebanyak mungkin, balita harus makan 3 kali sehari.

Masih kata H. Jaini, stunting itu kerdi/ pendek, tapi pendek bukan berarti stunting, untuk menghindari stunting ibu hamil harus makan sayur dan buah serta di tambah porsi makannya. Hindari Anemia saat hamil dengan mengkonsumsi suplemen penambah darah, jauhkan dari asap rokok untuk pertumbuhan si janin serta biasakan cuci tangan setelah beraktivitas. Acara di akhiri dengan pembagian dorpriz berupa 2 unit Setrika, 2 unit Magicom, 2 unit Kompor gas, serta 1 unit Sepeda. (Ali M)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *