Kebersamaan NU, Muhammadiyah Dan FPI Dalam Seminar Titik Temu Ahlus Sunnah Wal Jamaah

MutiaraindoTV, Kabupaten Bogor – Jawa Barat. Apresiasi setinggi – tingginya kepada Ustadz Faris Fudla Fasih yang berani untuk menginisiasi seminar dengan tema “Titik Temu Ahlus Sunnah wal Jamaah”, yang mengundang pembicara dari kalangan cendekia muda dari NU, Muhammadiyah dan FPI.

Ustadz Faris Fudla Fasih dalam sambutan yang berisi kegelisahan hatinya menyampaikan, bahwa sebagai Ustad muda alumnus Maroko begitu prihatin. Karena masih adanya oknum umat islam terutama di kalangan NU dan FPI.

Yang saling menghujat dan saling menghina yang melambari dirinya meminta dukungan sang ayah KH. Tatang Tajudin SQ. Yang dikenal dengan sebutan Kyai Jamesbon (Jaga Mesjid sama Kebon) yang akhirnya bersama dengan Majelis Muballighin Republik Dakwah, dan Majelis Tallim Ar-Rofi’iyah menggandeng PCINU Maroko dan FPI serta Muhammadiyah menggelar hajat seminar.

Tambah Ustadz Faris, sebetulnya panitia seminar Titik Temu Ahlus Sunnah wal Jamaah yang diselenggarakan Selasa, 23 Juli 2019 di PP Ar-Rofi’iyah, Cigarogol, Mekarsari, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Provinsk Jawa Barat. Juga mengundang pemateri dari kalangan Ormas Islam Persis, Wahabi dan HTI namun tidak berkenan hadir, sehingga ada 3 pembicara cendekiawan muda yakni Abdullah Aniq Nawawi Lc., MA (NU), Ahmad Luqman Hakim S.S., M.Ed (Muhammadiyah), KH. Salman Al-Farisi (FPI).

Materi Seminar diawali dengan materi yang menarik bertajuk Aspek Sosiologis dari Ahlus Sunnah wal Jamaah dari cendekiawan muda Ahmad Luqman Hakim. S.S., M.Ed. Lukman yang kandidat Doktor dengan segudang pendidikan formal yang full beasiswa di Indonesia, Malaysia, Timur Tengah bahkan di Eropa yang semuanya lulus dengan predikat terbaik.

Kajian Lukman lebih dititikapikan pada aspek sosiologis dengan menyitir penjelasan Ahlussunnah Wal Jamaah dalam persfektif Nahdlatul Ulama, yang juga diamini oleh Abdullah Aniq Nawawi Lc., MA yang nota bene adalah pemateri dari NU. Luqman juga menguraipaparkan tentang teori temu “Kuali peleburan atau Melting Pot, yang benang merahnya tergambar dalam Prinsip Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang tidaklah perlu dipertentangkan yakni :

  1. Selama sholatnya menghadap Kiblat.
  2. Menghargai perbedaan pendapat.
  3. Tidak radikal.

Sementara itu cendekiawan muda NU Abdullah Aniq Nawawi Lc., MA dengan segala keilmuannya lebih banyak menyitir persamaan dariv NU, Muhammadiyah dan FPI dengan runtutan dan kajian Islam yang dalam.

Aniq menyampaikan, bahwa karena perbedaan penafsiran antar firqah (kelompok) Islam yang semuanya berpangkal dari pembelaan terhadap yang mereka. Yakini bahkan disibukkan dengan 3 hal yakni perdebatan lintas agama, perdebatan lintas firqah atau kelompok serta perdebatan intra firqah yang bermuara pada kecurigaan dan saling tuduh.

Dalam konteks Ahlussunah Wal Jamaah sejatinya kita menemukan, bahwa kita berasal dari satu rumpun ideologi yang sama oleh karenanya harus disadari. Bahwa Ahlussunnah Wal Jamaah adalah rumah besar yang pintunya terbuka lebar untuk dicapai oleh semua firqah tanpa bersinggungan, apalagi membahayakan firqah lain.

Masih menurut Aniq, jika kita merujuk pada Al-Quran dan Hadist akan kita temukan kata sunnah dan jamaah, tetapi tidak ditemukan kata Ahlussunnah wal jamaah. Nabi Muhammad SAW menyebut kelompok Al Saead Al A’dzam (Kelompok Mayoritas), yang senantiasa memjaga keutuhan umat (Al- Jamaah).

Istilah Ahlussunnah Wal Jamaah terdiri dari 3 komponen kata yakni Ahlu yang berarti pengikut, Al-Sunnah berarti berarti yang mengikuti dan meneladani Nabi Muhammad, Jamaah berarti bersama-sama. Ahlussunnah wal Jamaah adalah kelompok yang konsisten mengikuti tradisi Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dalam perkara akidah, syariah dan ahlak yang berprinsip :

  1. Tidak mengkafirkan sesama muslim.
  2. Bertawassuth artinya seimbang tidak terlalu menggampangkan atau mempersulit, tidak terlalu keras atau terlalu lentur.
  3. .Menghormati semua sahabat, ahlul bayt dan ulama.

Titik temu Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah selalu menghindari berpecah belah dan selalu menjaga perdatuan umat, menghindari benturan baik pemikiran apalagi pisik. Kelompok Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah kelompok mayoritas muslim Indonesia yang terhimpun dalam beberapa ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, FPI dan lainnya dalam bingkai persatuan yang eloknya dibangun dari bawah ke atas. “Tegas Aniq.

Dalam sesi terakhir KH. Salman Alfarisi dari DPP FPI lebih banyak menambahkan dengan bijak berperi dan kesadaran, bahwa FPI yang berdiri pada bulan Agustus 1998 didirikan oleh para Tokoh NU jadi secara arif menyampaikan FPI itu adik kandung dari NU dan Muhammadiyah.

Kalaupun ada yang suka menjelekkan FPI atau membenturkan FPI dengan NU itu adalah oknum, kalapun pimpinan dengan pimpinan berselisih pemikiran janganlah yang dibawah ikut ribut. Namun yang biasanya ribut itu di level grass root atau akar rumput hendaklah kita tidak saling menghujat, apalagi saling mengkafirkan.

FPI senantiasa eksis membangun kebersamaan, FPI siap membantu mengamankan setiap kegiatan ormas Islam yang berbingkai pada NKRI dan bermuara pada terwujudnya NKRI bersyariah, pungkas KH. Salman Alfarisi dari DPP FPI. (Agus Yusbiyadi & Iqbal Kausar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *