LSM Siti Jenar Datangi Polda Jatim Dan Divre Perhutani Terkait Pembalakan Hutan Liar Di Situbondo

 

Marakya pembalakan hutan  secara  liar di SitubondoBondowoso Ketua Umum LSM SITI JENAR Datangi POLDA Jatim Dan DIVRE Perhutani Jatim.

 

 

Mutiaraindo.com ( Situbondo)-Ketum LSM SITI JENAR (Ketua Umum Lembaga Swadaya Masyarakat Situbondo Investigasi Jejak Kebenaran) Eko Febrianto mendatangi POLDA Jatim (Polisi Daerah Jawa Timur) serta DIVRE Perhutani Jatim (Divisi Regional Perusahaan Hutan Negara Indonesia Jawa Timur) di Surabaya. Terkait beberapa kasus kejahatan lingkungan seperti Ilegal Logging yang marak beberapa tahun diwilayah kawasan hutan Perhutani KPH (Kesatuan Pengelolaan Hutan) Bondowoso, yang meliputi 2 Kabupaten Situbondo dan Bondowoso, Senen 3 Februari 2020.

Yang Diduga kuat beberapa oknum Perhutani dan APH (Aparat Penegak Hukum) terlibat Pembalakan Liar, LSM SITI JENAR laporkan beberapa nama-nama oknum kekesatuannya masing-masing termasuk ke Kepolisian Daerah (POLDA) Jatim.

Ketum LSM SITI JENAR mengatakan, kasus tersebut terjadi pada akhir tahun 2019 yang diduga melibatkan pula oknum aparat setempat. Dan para pelaku sebelumnya sering tertangkap saat melakukan pengiriman hasil pencurian Kayu Sonokeling yang berasal dari kawasan hutan KPH Bondowoso, dan diamankan oleh APH, walau Ending kasusnya jarang berakhir kepengadilan. Bahkan beberapa kendaraan Truk dan Pickup dibebaskan polisi tanpa ada kejelasan.

LSM SITI JENAR melaporkan kasus ini kepada pihak POLDA Jatim dan DIVRE Perhutani Jatim untuk menindaklanjuti pemeriksaan terhadap para pelaku dan oknum yang telah membebaskan pelaku setelah dilakukannya beberapa kali penangkapan baik dari hasil penangkapan APH POLHUTMOB ( Polisi Hutan Mobile) dan bahkan warga setempat, ujar Eko Febrianto.

Ketum LSM SITI JENAR Eko Febrianto meminta POLDA Jatim melakukan penyelidikan terhadap Otak pelaku dan para Boss Pelaku Ilegal Logging yang selama ini sempat tertangkap tangan serta melawan Monopoli secara Ilegal sang penguasa hutan di wilayah Hukum POLDA Jatim.

Kami berharap POLDA Jatim segera menindak lanjuti kasus ini, karena akibat aksinya itu kawasan hutan yang ditebang mencapai sekitar puluhan Hektare (Ha), apalagi pohon yang ditebang ada yang berusia 30 sampai 50 tahun, kata Eko Febrianto.

Kerusakan hutan lindung di kawasan KPH Bondowoso saat ini sudah menimbulkan kerugian negara yang cukup besar. Berdasarkan hasil Investigasi Tim LSM SITI JENAR, kerusakan hutan di KPH Bondowoso ini sudah mencapai 60 persen dari luas lahan keseluruhan.

Terkait hal itu, dampak yang dirasakan masyarakat adalah menurunnya debit air di sekitar kawasan tersebut. Sering terjadi banjir bandang dan longsor di musim penghujan. Kawasan pedesaan dan pemukiman yang berada di sekitar hutan lindungpun itu terancam kekeringan, ini terlihat masyarakat yang Mayoritas Petani sering mengeluhkan kurangnya persediaan air untuk lahan persawahannya, disaat musim kemarau tiba.

Menurut Ketum LSM SITI JENAR Eko Febrianto terkait laporannya pada DIVRE Perhutani Jatim, dalam hal ini Kepala DIVRE harus mau turun ke bawah utamanya memperketat pengawasan di semua Element Karyawan Perhutani di wilayah KPH Bondowoso yang mencakup 2 kabupaten yaitu Situbondo dan Bondowoso. Sedang yang terlibat secara langsung atau tidak langsung terhadap kasus pembalakan liar di seluruh wilayah hutan yg terletak di Teritori KPH Bondowoso, kami esok juga akan berkonsultasi dengan penggiat lingkungan terkait beberapa kasus kejahatan lingkungan di wilayah Tapal Kuda ini. Dan apabila Respon dari DIVRE Jatim kurang, saya akan lanjutkan kasus ini ke Kementrian BUMN (Badan Usaha Milik Negara) di Jakarta, ujar Eko Febrianto.

Karena dampak kerusakan hutan pasti sangat merugikan semua Elemet masyarakat mulai dari Banjir Bandang yang kemarin terjadi yang juga di kawasan hutan KPH Bondowoso tepat di Kawah Ijen RPH (Resort Pengelolaan Hutan) Sukosari. Dan tidak menutup kemungkinan kejahatan Ilegal Logging akan menyebabkan tanah longsor. Serta bencana kekeringan dikala musim kemarau tiba dan perihal Laporan yang akan saya lakukan hari ini Senin 3 Februari 2020 ini, sudah kami lengkapi dengan beberapa Alat Bukti dilapangan. Diantaranya Dokumen Video waktu melakukan pembalakan liar. Dokumen Foto dan keterangan para saksi masyarakat sekitar, serta Dokumentasi hasil Investigasi di Internal kami. Maka daripada itu kami juga mengajukan pengaduan terkait dengan perambahan hutan lindung ini ke Direktorat Kriminal Khusus POLDA Jatim.

Dan hari ini kami melapor ke POLDA Jatim untuk meminta pihak POLDA menindak persoalan sesuai dengan aturan hukum yang berlaku, agar aturan yang tertera pada Pasal 12 huruf e Jo pasal 83 huruf b UU RI No 18 Tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan dengan ancaman kurungan 5 tahun penjara dan denda maksimal 2,5 miliyar. Itu tidak hanya berlaku pada kurir dan maling-maling kayu kecil saja dan tumpul pada Cukong kayu dan oknum nakal (Beking) yang terlibat pembalakan besar-besaran di wilayah hutan Situbondo dan Bondowoso.

Untuk itu Ketum LSM SITI JENAR Eko Febrianto tadi sudah menyampaikan pada pihak POLDA Jatim dan DIVRE Perhutani Jatim untuk sama-sama turun kelapangan untuk melihat langsung lokasi pembalakan liar tersebut, pungkas Eko Febrianto. (Irwan)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *