Mencari Pemimpin Idaman Yang Kharismatis Dan Religius Menuju Mura Sempurna 2020-2025

Mutiaraindotv, Musi Rawas – Sumatera Selatan, menjelang Pilkada Serentak Tahun 2020, di 2 wilayah diantaranya Kabupaten Musi Rawas dan Kabupaten Musi Rawas Utara. Dengan gencar dan semangatnya para pemain Politik di 2 daerah ini, yang saling unjuk gigi dan menampilkan Visi dan Misi baik melalui Media Cetak dan Elektronik serta tak Ketinggalan Dunia Sosmed.

Berdasarkan kajian yang berjalan saat ini peluang masih di kuasai Kandidat Pertahanan yang selama 4 Tahun sudah bekerja dan memberikan bukti walau pun bukti tersebut belum terealisasi semuanya. Akan tetapi Pemain Politik baru pun engak mau ketinggalan dengan menunjukan segala cara untuk mencari simpati masyarakat baik itu di Kabupaten Musi Rawas maupun di Kabupaten Musi Rawas Utara. Jum’at, 22 November 2019.

Akan tetapi masyarakat saat ini sudah bisa menilai mana yang pantas dan cocok untuk mempin daerahnya di 5 Tahun kedepan, salah satu warga Isinial HY yang juga selama ini aktif sebagai pengkaji Politik mengatakan untuk mencari Pemimpin tersebut sebenarnya tak sulit dan juga tak gampang. Karena jika salah pilih maka akan hancurlah 5 tahun kedepan, maka dari itu masyarakat terkhusus di 2 wilayah di Kabupaten Musi Rawas dan Musi Rawas Utara, pilihlah Kandidat sesuai dengan Hati Nurani bukan karena temakan Janji Politik dan Siraman Money. Pikirkan 5 Tahun kedepannya karena yang membutuhkan Pemimpin terbaik adalah warga masyarakat diwilayahnya, bukan dari Iming – iming Politik Janji dan Money.

Salah satu gambaran yang bisa kita petik menurut ajaran dan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, baik yang berhubungan dengan Allah Swt (Hablum minallah) maupun hubungan dengan manusia (Hablumminannas), termasuk di antaranya masalah kepemimpinan di Pemerintahan. Kepemimpinan di satu sisi dapat bermakna Kekuasaan, tetapi di sisi lain juga bisa bermakna Tanggungjawab, ketika kepemimpinan dimaknai sebagai Kekuasaan, melebihi Allah SWT.

Mengingatkan kita bahwa hakikat kekuasaan itu adalah milik Allah SWT. Allah SWT yang memberi kekuasaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah pula yang mencabut kekuasaan dari siapa pun yang dikehendaki-Nya (Baca : Al-Qur’an surat Ali Imran : 26).

Menjadi seorang pemimpin (Umaro) merupakan amanat dan tanggung jawab yang harus diemban oleh sesorang yang benar-benar “Ahli”, berkualitas dan memiliki tanggungjawab yang jelas dan benar serta adil, jujur dan bermoral baik. Inilah beberapa kriteria yang Islam tawarkan dalam memilih seorang pemimpin yang sejatinya dapat membawa masyarakat kepada kehidupan yang lebih baik, menuju kepada masyarakat Darussalam, Baldatun Thaybatun Warabbun Ghafur.

Sebagai Pemimpin umat, Nabi SAW memiliki empat ciri kepemimpinan diantaranya, Shidiq (Jujur), Fathanah (Cerdas dan Berpengetahuan), Amanah (dapat dipercaya), dan Tabligh (Berkomunikasi dan Komunikatif dengan bawahannnya dan semua orang). Seorang pemimpin yang sejati senantiasa akan mengabdi, menerima keluh kesah, memfasilitasi, dan siap menjadi ” Budak ” rakyatnya, bukannya menjadi “ Tuan ” bagi masyarakatnya.

Ada baiknya juga, jika kita belajar dari isi pidato Khalifah Abu bakar Assiddiq ra ketika beliau dilantik menjadi Pemimpin umat sepeninggalnya Rasulullah SAW, yang mana inti dari isi pidato tersebut dapat dijadikan pedoman dalam memilih profil seorang pemimpin yang baik, yang telah diterjemahkan kurang lebih sebagai berikut :

  1. Saudara-saudara, Aku telah diangkat menjadi pemimpin bukanlah karena aku yang terbaik diantara kalian semuanya, untuk itu jika aku berbuat baik bantulah aku, dan jika aku berbuat salah luruskanlah aku.
  2. Sifat jujur itu adalah amanah, sedangkan kebohongan itu adalah pengkhianatan. ‘Orang lemah’ diantara kalian aku pandang kuat posisinya di sisiku dan aku akan melindungi hak-haknya. ‘
  3. Orang kuat’ diantara kalian aku pandang lemah posisinya di sisiku dan aku akan mengambil hak-hak mereka yang mereka peroleh dengan jalan yang jahat untuk aku kembalikan kepada yang berhak menerimanya.
  4. Janganlah diantara kalian meninggalkan jihad, sebab kaum yang meninggalkan jihad akan ditimpakan kehinaan oleh Allah Swt. Patuhlah kalian kepadaku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Jika aku durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada kewajiban bagi kalian untuk mematuhiku.
  5. Kini marilah kita menunaikan Sholat semoga Allah Swt melimpahkan Rahmat-Nya kepada kita semua.

Dan juga ada 7 (tujuh) poin yang dapat diambil dari inti Pidato Khalifah Abu Bakar ra tersebut, yaitu:

  1. Berbakti dan Mengabdi kepada Allah SWT, dalam hidup ini segala sesuatunya takkan terlepas dari pantauan Allah SWT, manusia bisa berusaha semampunya dan sehebat-hebatnya namun yang menentukannya adalah tetap Allah SWT,
  2. Sifat Rendah Hati, pada hakikatnya kedudukan Pemimpin itu tidak berbeda dengan kedudukan rakyatnya.
  3. Sifat Jujur dan Memegang Amanah, kejujuran yang dimiliki seorang Pemimpin merupakan simpati rakyat terhadapnya yang dapat membuahkan kepercayaan dari seluruh amanat yang telah diamanahkan,
  4. Sifat Terbuka Untuk Dikritik, seorang Pemimpin haruslah menanggapi Aspirasi – aspirasi rakyat dan terbuka untuk menerima Kritik – kritik sehat yang Membangun dan Konstrukti,
  5. Sifat Berlaku Adil, keadailan adalah konteks nyata yang harus dimiliki oleh seorang Pemimpin dengan tujuan demi kemakmuran rakyatnya,
  6. Komitmen dalam Perjuangan, sifat pantang menyerah dan konsisten pada konstitusi bersama bagi seorang pemimpin adalah penting.
  7. Bersikap Demokratis, demokrasi merupakan “Alat ” untuk membentuk masyarakat yang madani, dengan Prinsip – prinsip segala sesuatunya dari rakyat untuk rakyat dan oleh rakyat.

Dari rangkaian syarat-syarat pemimpin diatas sedikit dapat kita jadikan acuan dalam memilih sosok Pemimpin, jadi Pemimpin seperti apa yang sebaiknya diangkat di era seperti sekarang ini. Tentunya sosok seorang Pemimpin yang Religius, Kharismatus, dan Berkatakter. Yang bisa membenahi Karakter Generasi Bangsa dari tingkat bawah sampai ke tingkat atas, menuju kemakmuran bersama dengan Perbaikan Karakter Ahlaq dan Aqidah para Generasi Penerus Bangsa kedepannya.

Sekilas kita sikapi kutifan dan penjelasan diatas, bahwa majunya suatu Daerah bukan di Ukur dari segi Pembangunan Infrastruktur yang serba lengkap dan mewah. Akan tetapi majunya suatu Daerah di ukur dari Segi Pemimpin yang bisa membenari Karakter Generasi Penerus Bangsa dengan perbaikan Ahlaq dan Aqidah. (Mutiaraindotv SumSel).

editor ” Awi ”

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *