Menyaring Budaya Luar Untuk Selamatkan Budaya Lokal

MUTIARAINDOTV – SEMARANG, Budaya adalah salah satu cara hidup atau identitas yang dimiliki oleh sebuah kelompok orang di daerah tertentu dan bersifat turun-temurun. Setiap tempat, pastilah memiliki identitas untuk menunjukan kepada daerah lain tentang keunggulan tempat itu. Dengan budaya, kita dapat mengenal atau dikenal oleh masyarakat yang berada jauh dari tempat kita. Selain itu, kita dapat melihat perilaku masyarakat. Secara tidak langsung, budaya dapat mempengaruhi perilakuperilaku baik budaya dari luar maupun dari lokal itu sendiri. Contoh budaya adalah Tari Saman, Pendet, Barong, Wayang, Batik, dan lain-lain. Budaya bisa membawa kita ke arah yang lebih baik, namun juga bisa ke arah yang negatif. Berdasarkan hal itulah kita harus menjaga kelestarian budaya yang telah kita miliki. Jangan sampai budaya yang menjadi ciri khas atau identitas negara kita diklaim atau justru diakui oleh negara asing. Terkadang kita sendiri memang tidak sadar telah mengabaikan banyak budaya lokal dan justru tertarik mempelajari budaya luar. Contoh sederhana yang dapat kita ambil adalah lagu daerah dan tari daerah. Tari dan lagu daerah adalah aset budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Namun, sangat sedikit anak atau generasi jaman sekarang yang hapal atau tahu akan.

Di sisi lain, Seligman (2002) mengemukakan bahwa budaya mempengaruhi kekuatan karakter seseorang. Sebagai penyokong kekuatan karakter, budaya menyediakan institusi, ritual, panutan, peribahasa, pepatah, dan cerita anak-anak. Hal ini membuat individu sejak anak-anak dan remaja menjadi terbimbing untuk mengembangkan karak-ter yang sesuai dengan budayanya. Panutan dan teladan dalam suatu budaya memberikan gambaran tentang kekuatan atau keutamaan tertentu. Panutan yang dimaksud bisa jadi tokoh nyata (misalnya Panglima Sudirman yang melambangkan kepahlawanan) dan kisah legendaris (misalnya Ki Hajar Dewantara dengan kecintaannya terhadap pendidikan). tari ataupun lagu daerah.

Generasi sekarang justru lebih banyak menyerap budaya asing yang belum tentu baik untuk diri sendiri. Generasi sekarang lebih hapal dengan lagu manca negara dibandingkan dengan lagu daerah atau lagu nasional. Generasi sekarang lebih banyak hapal dengan bahasa luar dibandingkan dengan bahasanya sendiri. Lebih banyak anak yan tertarik untuk mencoba gaya busana luar dibandingkan dengan gaya busana lokal. Menjadi up to date memang baik. Mengikuti jaman juga salah satu hal yang wajib untuk dilakukan. Namun, alangkah baiknya jika kita juga melakukan penyaringan terhadap apapun yang masuk ke dalam negara yang kiranya dapat mempengaruhi budaya lokal. Jangan sampai karena terlalu asik menikmati budaya luar kita lupa dengan budaya kita sendiri. Saat budaya asing datang, kita hanya harus menyaringnya. Mengambil yang baik dan meninggalkan yang buruk. Bukan justru menjadikannnya pengganti dari budaya lokal negara kita. Selain itu, jangan sampai sikap nasionalisme menjadi hilang. Kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa kita adalah kekayaan yang tak ternilai oleh apapun. Pengklaiman budaya yang pernah terjadi merupakan cambuk untuk semuanya bahwa kita telah lalai dalam menjaga dan melestarikan budaya lokal Indonesia.

Dengan bersikap demikian, bukan berarti kita tidak menerima budaya lain masuk ke Indenesia. Kita hanya harus berani bertindak tegas dalam menjaga kelestarian budaya Indonesia. Diharapkan dengan menyaring budaya luar masuk ke dalam budaya lokal, budaya lokal sendiri tidakan hilang. Kita akan menjadi salah satu negara yang memiliki budaya lokal yang tak ternilai harganya. Tidak akan ada lagi kasus klaim mengklaim budaya antara negara. Negara asing juga tidak akan berani menerobos pertahanan kita terhadap budaya bangsa. Tindakan terakhir yang dapat dilakukan adalah memberikan sanksi yang tegas bagi mereka yang mencoba mengambil budaya lokal Indonesia. Jika, tindakan itu segera dilakukan besar kemungkinannya budaya negara kita akan aman dan akan terus ada hingga anak cucu kita. Penanaman sikap cinta budaya dapat dimulai sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi, bahkan hingga dewasa. Terus wapada dan tetap cinta akan budaya lokal Indonesia.

Penulis : Sony Apriandi & Tim 9

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *