Pemkab Situbondo Tutup Mata Trotoar Banyak Beralih Fungsi

oleh -44 views

MutiaraindoTV, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Keberadaan trotoar sebagai fasilitas pendukung penyelenggaraan lalu lintas, hal ini merupakan aspek sangat penting yang perlu diperhatikan. Trotoar yang sejuk, bersih dan tertata rapi menjadi idaman para pejalan kaki di Kabupaten Situbondo.

Namun, kenyataannya masih banyak yang perlu diperbaiki penataannya untuk meningkatkan rasa aman dan nyaman bagi pejalan kaki. Mengintip keadaan trotoar di Kabupaten Situbondo, Hz Munawarah (48 Tahun) asal Asembagus, Situbondo, sebagai pejalan kaki.

Saat ditemui Wartawan Media MutiaraindoTV, mengaku kondisi trotoar di Situbondo, tepatnya di Jalan A. Yani kotor dan sempit serta banyak yang di tempati warung serta rombong para Pedagang Kaki Lima (PKL) menutup trotoar.

“Kondisi trotoar terasa begitu kotor, sempit dan ada pula yang ditutupi rombong. Jadi, kalo ada pejalan kaki dari lawan arah, salah satu dari kita harus mengalah. ”Ujarnya.

Munawarah berharap kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Sitibondo, “khususnya Dinas terkait untuk menata kembali di sepanjang trotoar.

” Agar nantinya bisa lebih nyaman dan sejuk, serta trotoar yang rusak dan amburadul agar secepatnya juga diperbaiki. “Tuturnya.

Pantauan Wartawan Media MutiaraindoTV di seputaran trotoar sepanjang Jalan A. Yani tepatnya di jalur dua arah perempatan Pos 90 Alun – Alun kota Situbondo ke Jalan A. Yani arah KDS, di sana masih banyak pedagang yang berjualan hingga menutup trotoar yang lebarnya sekitar 1 meter.

Pada saat jam sibuk, kondisi lalu lintas padat, membuat banyak pemotor memilih parkir kendaraannya di trotoar, ini adalah dua gambaran dari beberapa pelanggaran penggunaan fasilitas pendukung jalan.

Pada hakikatnya trotoar diperuntukkan untuk pejalan kaki, penyandang disabilitas. Dalam Pasal 28 ayat (2) Undang – Undang No. 22 Th 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), jelas disebutkan setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi perlengkapan jalan.

Jika, diketahui melanggar, pelanggar akan dikenakan 2 macam sanksi yaitu ancaman pidana kurungan paling lama 1 (Satu) bulan atau denda paling banyak Rp. 250.000,- (Pasal 275 ayat (1) Undang – Undang LLAJ).

Sementara menurut pria asal Desa Gudang, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, Dafid Hariyono (48 Tahun) selaku Korwil DPD LSM PENJARA INDONESIA JAWA TIMUR itu mengatakan, keberadaan trotoar saat ini justru banyak yang beralih fungsi.

” Trotoar sekarang banyak malah dijadikan tempat – tempat berjualan para pedagang/warung dan parkiran. Jadi, yaa, banyak pejalan kaki yang berjalan di area jalan raya, bukan ditrotoarnya,” jelas Dafid, saat ditemui wartawan Mutiaraindotv di seputaran Alun – Alun Kota Situbondo. Selasa, 04 Mei 2021 sore.

Menurutnya, walaupun begitu, kita tidak boleh sepenuhnya menyalahkan pedagang atau pemilik kendaraan, harus ada peran serta juga dari Pemerintah Daerah Kabupaten Situbondo untuk mendukung hal ini.

” Misalnya, Dinas terkait bisa lebih tegas kepada pelanggar atau minimal dibuat rapi dulu lah, jangan dibiarkan (Tutup mata) dengan kondisi trotoar seperti ini. ”Ujarnya

Pentolan LSM itu juga berharap trotoar bisa lebih layak dan nyaman dari sebelumnya, mungkin bisa diberikan papan nama larangan, agar tidak ada lagi sekumpulan pedagang yang berjualan dengan membuka warung dan menempati diatas trotoar. ”Harapnya. (Imam)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *