Provokator Dari Sudut Penghasutan Dan Penyertaan Dalam KUHP

MutiaraindoTV, Kabupaten Garut – Jawa Barat. Peristiwa dimana massa (Sekelompok Orang) melakukan pengacauan, pengrusakan dan berbagai kegiatan buruk lainnya. Adalah sebagai bentuk kerusuhan, kerusuhan dapat hanya melibatkan satu kelompok massa saja yang menjadi orang. Atau barang sebagai sarana mereka, dapat juga berupa dua kelompok massa yang saling menyerang.

Terlebih lagi istilah provokator ini juga kemudian ditujukan kepada orang – orang yang menggerakan massa, sekalipun gerakan massa itu tidak di maksudkan untuk melakukan kegiatan melawan hukum saja. Terlepas dari soal benar atau tidaknya keberadaan provokator dibalik terjadinya berbagai kerusuhan, masalah Penghasutan merupakan hal yang menarik untuk d kaji dari sudut hukum yang berlaku di Indonesia.

Khususnya dari sudut KUHP, kajian ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman terkait pengaturan penghasutan, yang diatur dalam KUHPi.
Metode penelitian yang di gunakan dalam kajian ini, yakni metode kepustakaan dengan mempelajari berbagai Kepustakaan Hukum Pidana.

Himpunan peraturan Perundang – Undangan, artikel dan sumber – sumber lainnya. Dilakukan juga dengan metode yuridis normatif yang besifat kualitatif. Maka dari hasil Penelitian menunjukan bagaimana penghasutan dalam KUHP, serta pengaturan provokator dalam Pasal – pasal penghasutan.

Dan penyertaan yang secara khusus perbuatan menghasut, yaitu diatur dalam Pasal 160 dan Pasal 161 terdapat dalam Buku II Tentang Kejahatan. Pada Bab V berjudul Kejahatan Terhadap Ketertiban Umum, dari kedua perbuatan provokator atau orang yang Memprovokasi kerusuhuan akan dikaji dari sudut pasal – pasal penghasutan.

Dan juga dari sudut aturan – aturan penyertaan, khususnya tentang menganjurkan/membujuk (Uitlokken). Dari hasil kajian ini dapat disimpulkan bahwa tindakan provokator, atau orang yang memprovokasi akan dapat dijerat dari sudut Pasal Tentang Penghasutan.

Yakni Pasal 160 dan Pasal 161 KUHPi, dan dari sudut aturan – aturan Penyertaan khusus tentang menganjurkan/membujuk, demikian paparan yang di sampaikan oleh Iskandar SH. Salah satu Calon Anggota DPRD Kabupaten Garut Dapil II (Garut Utara) dari Partai Berkarya Nomor Urut 5 ini.

Ketika Wartawan Media MutiaraindoTV mewawancarai, di kediamannya mengenai perbuatan provokator dilihat dari sudut penghasutan dan penyertaan dalam KUH. (Iskandar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *