Target 14 Persen 2024, BKKBN RI Lakukan Percepatan Pencegahan Stunting

 

MutiaraIndoTVcom (Bekasi) – Penurunan stunting dari tahun-tahun sebelumnya relatif belum mencapai 14 persen di tahun 2024. Sehingga diperlukan adanya percepatan strategi nasional percepatan pencegahan stunting. Sehingga target 14 persen membutuhkan penurunan 3 persen menuju percepatan penurunan stunting ke 2024.

BKKBN RI juga mengklaim ada beberapa wilayah di Indonesia yang kasus stuntingnya masih tinggi. Yakni Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara , Aceh, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional ( BKKBN )RI dalam upaya menurunkan angka stunting aktif memberikan edukasi kepada masyarakat. Salah satunya dengan terjun ke masyarakat melakukan Sosialisasi dan Advokasi di Wilayah Kabupaten Bekasi.

” Stunting adalah masalah gizi yang hampir dapat ditemui di semua wilayah Indonesia, salah satunya di Jawa Barat,” Kata Direktur KEI BKKBN Pusat , Eka Sulistiya Ediningsih, pada giat Sosialisasi Advokasi dan KEI Program Bangga Kencana, Kasus Stunting Jadi Persoalan Bersama Mitra Kerja, di Perumahan Griya Satria Pesona, Desa Satria Jaya, Tambun Utara , Kabupaten Bekasi, Minggu ( 26/6).

Dikatakannya, upaya yang dilakukan BKKBN RI untuk menurunkan angka Stunting yaitu dengan melakukan pemetaan dan pendampingan kepada keluarga yang beresiko stunting, tahapan pra nikah, masa kehamilan dan pasca persalinan.

” Pada dasarnya, stunting ini amanah bagi kita semua. Dan menjadi PR bagi kita semua adalah bagaimana mengupayakan terjadinya mindset di masyarakat agar menjadi sadar bahwa kasus stunting ini penting dan bisa terjadi pada siapa saja,” Jelas Eka Sulistiya Edingsih.

Sementara menurut pakar Kependudukan
Dr. dr. M Yani, M. Kes, kondisi Stunting secara nasional saat ini masih tinggi dan jauh dari standar yang ditetapkan WHO yaitu sebesar 15 persen.

” Tentunya ini menjadi tanggungjawab bersama pemerintah serta para stakeholder agar angka stunting dapat di tekan,” Tutur M. Yani.

Sosialisasi, sambungnya, digenjarkan mulai hulu, tentang arti pentingnya hidup sehat guna mencegah bayi stunting.

M.Yani menambahkan, Stunting dapat disebabkan adanya berbagai faktor dan belum banyak masyarakat yang mengetahui. Misalnya, perilaku pasca kelahiran serta kultur, air dan sanitasi yang belum diperhatikan, selain itu perlu ditingkatkan penyuluhan bagi calon pasangan yang akan menikah.

” Saat ini angka pernikahan dini cukup tinggi, padahal sangat beresiko terjadinya stunting. Untuk itu harus dicegah pernikahan dini,” Kata M.Yani.

Kegiatan bertema ‘Sosialisasi Advokasi dan KEI Program Bangga Kencana, Kasus Stunting Jadi Persoalan Bersama Mitra Kerja’ BKKBN RI tersebut dihadiri Anggota DPRD Jawa Barat, H.Achdar Sudrajat, Kepala Desa Satria Jaya, Asta Rajan dan 200 peserta yang terdiri dari Kader PKK dan juga Posyandu.( dwi)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *